Saturday, January 05, 2008

Mengapa Berjalan Di Tempat???

Kalau saja, dan seandainya bila, para aktivis ICT Indonesia berkenan menggali arsip lama, dan wacana yang dibahas di berbagai milist: mastel, telematika, genetika, apkomindo, kadin, technomedia, dan lain-lain;

Maka akan terlihat di situ, tahun. 97-98, kita ramai bicara soal perubahan uu telekomunikasi dan perlunya ada departemen yang mengurusi telematika; tahun 99-00 kita ramaikan dengan wacana TKTI, roadmap telekomunikasi!, blue print e-commerce, software lokal versus MS, dan mulai ramae soal uu-pti versus uu iete.

Tahun 01-03, muncul inpres 6/2001 beserta 72 item action plan, lalu ada NITF, lalu ada blue print pembangunan telekomunikasi, kemudian lahir kementrian Kominfo, kadin TPM, TKTI beserta roadmap e-govt-nya, dan seabreg wacana lain seperti kerja sama Korea Indonesia yang saqmpai sekarang entah di mana rimbanya.

Tahun 04-07, tidak banyak berubah, yang berubah hanya TKTI menjadi DetikNas, judul ganti, isi belum beda atau tepatnya isunya sami mawon. E-leadetship muali menjadi kebutuhan, makanya menjadi wacana. Dalam periode ini ditandai juga dengan riuh-rendahnya beberapq kalangan (tdk usah disebut para pihaknya) berupaya berdiskusi, bermeeting ria, memenuhi permintaan petinggi waktu itu untuk membuat roadmap pembangunan ICT, sementara itu sahabat kita yang duduk di kerajaan seperti senang mengganti isu, judul, dan lakon, padahal semuanya masih dalam rencana, baru diatas buku, di dalam seminar, di tengah workshop, belum dibangun di desa sana, di kota situ, dirasakan oleh Polan dan Fulan. Satu hal, ternyata ramalan yang saya tulis di sebuah artikel majalah hukum, bahwa Indonesia baru bisa punya cyberlaw setelah tahun 2006 sudah terbukti, menjadi kanyataan, sampai akhir 2007 RUU ITE masih bertahan di Senayan.

Nah akhir 07, uda Eddy Satrya yang sekarang duduk di Menko Perekonomian dan dulu sama-sama menyusun draf Inpres 6/2001 beserta Action Plannya, lontar jumrah issue lama yang sepertinya mau dibuat dalam kemasan baru (lagi). Sebagai pegiat Telematika, saya tidak pesimis dengan apa yang akan dibahas, dan masih tetap akan aktif ikut terlibat dalam diskusi, namun ada sedikit pertanyaaqn yag mengganjal dalam otak cerdas ini.

Akankah kita terus menerus mengulang langkah dari nol setelah kita lelah payah berjalan mengayuh dayung di atas awan yang hanya sedikit melewati harapan-harapan indah tiada terwujud kini?

Mengapa tidak meniru negara tetangga yang karya nyatanya sudah mewuiud, memberi nilai-nilai bagi daya saing dan martabat bangsa dan negara di aras internasional, memberi kebanggan kepada semua warganya.

Kapan ya kita mulai bicara "mari kita labjutkan program pembangunan tahun lalu yang baru tercapai sekian persen" kapan ya kita dapat berbangga dengan apa saja yang sudah kita raih.*****

No comments:

Post a Comment