Tuesday, April 28, 2009

Ternyata Guru Juga Manusia

selain sebagai profesional, bekerja untuk sebuah perusahaan swasta dan sebagai konsultan, saya juga mengajar, sudah delapan tahun mengajar di perguruan tinggi (PT), jadi saya juga mendefinisikan diri sendiri sebagai guru. eit nanti dulu, sebagai guru di perguruan tinggi tidak lantas memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari misalnya, guru SD, SMP dan atau SMK/A. mengajar di PT dengan status dosen tidak tetap, bagi saya merupakan pengabdian kepada masyarakat, jadi berapapun "dibayar" ya diterima saja.

nah terkait isu yang diramaikan di milist ini, khususnya soal guru yang lebih banyak mengejar sertifikat dari pada membekali anak didik dengan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan, mari kita lihat masalah ini dari berbagai segi, sepertri misalnya, benarkah hal tersebut terjadi? jika benar terjadi, berapa banyak? di mana saja? fakta seperti ini perlu dikemukakan guna menghindari fitnah, dan denat kusir yang tidak bermanfaat.

tarohlah kasus (saya sebut kasus, karena tidak bisa digeneralisasi) guru mengejar sertifikat benar terjadi dan jumlahnya cukup signifikan, saya kira langkah bijak yang dapat dilakukan bersama adalah mengajukan pertanyaankep[ada diri sendiri, apakah hal tersebut merupakan kondisi atau masalah. dikatakan kondisi bila keberadaannya taken for granted, menajdi masalah bila eksistensinya merupakan deviasi dari tindakan yang semestinya, atau merupakan penyimpangan dari tugas utama guru.

misal kata kita sepakat bahwa hal tesebut merupakan masalah. lantas pertanyaan kembali kepada kita, apakah kita ingin terus membiarkan sebagai masalah, atau membahasnya secara panjang lebar sehingga malah menimbulkan masalah baru, atau bersama - sama mencari solusi?

karena kita tergolong komunitas intelektual dan sifat yang melekat pada kata GURU berkisar pada optimistik, rasional, sharing, dan caring, maka saya percaya kita (dan Anda yang berprofesi sebagai guru) lebih suka lebih suka mencari solusi dari pada membiarkan atau malah membesar-besarkan hal tersebut sehingga timbul masalah baru.

singkat kata, bagaimana mencari solusi terbaik? untuk mencari jawabnya, mari kita mulai dengan mengajukan pertanyaan "mengapa hal tersebut terjadi?" mencoba menajwab pertanyaan ini. mari kita lihat ke belakang. di masa lalu, ketika kebijakan sertifikasi guru yang berdampak pada tambahan insentif penghasilan belum diterbitkan pemerintah, adakah permasalahan ini (guru lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengejar sertifikat atau hal - hal lain di luar kewajiban mengajar) terjadi? mungkin ada satu dua, yakni mereka yang ingin menambah ilmu untuk memperkuat latar belakang pendidikan. lalu apa bedanya dengan kondisi sekarang? dulu, guru berupaya meraih sertifikat yang lebih baik, lebih tinggi masih merupakan keinginan individu, yang tidak selalu disertai dengan motif menambah penghasilan. setelah kebijakan sertifikasi guru yangdikaitkan dengan tambahan penghasilan diterbitkan, bila ada orientasi guru yang berubah, rasanay hal ini masih dapat dimengerti, terutama bila memperhatikan kondisi kesejahteraan guru yang rata - rata masih di bawah standar kesejahteraan.

jika demikian apakah kita akan menyalahkan Pemerintah yang menerbitkan kebijakan sertifikasi guru dikaitkan dengan tambahan penghasilan? jawabnya bisa YA, bisa pula TIDAK. YA karena kebijakan dibuat secara partial, kurang memperhatikan efek negatif yang kemungkinan (dan ternyata sudah) muncul. TIDAK, karena kit apecaya bahwa kebijakan sertifikasi guru perlu doilihat sebagai salah satu upaya Pemerintah meinigkatkan kualitas pendidikan.

nah, mulai bingung kan? jadi siapa doong yang mesti dijadikan tertuduh????? pada hemat saya tidak perlu ada pihak yang disalahkan atau dijadikan kambing hitam. mari kita kembali saja kepada tujuan kita menjadi guru, apakah ketika kita memutuskan berkarya sebagai guru karena kepepet tidak ada pekerjaan lain? atau karena panggilan nurani dengan menyadari segala konsekuensinya. Saya lebih suka melihat dan beranggapan bahwa majoritas guru di Indonesia terpanggil menjalani profesi sebagai guru karena panggilan nurani, dan menyadari bagaimana susah-senangnya menjadi guru.

jika demikian, TANPA bermaksud menyerah kepada keadaan, dan menyerang siapapun, barangkali menjasdi langkah bijak bila para guru yang masih terobsesi mencari setifikasi dengan melupakan tugas utama, untuk kembali kepada khithah. sertifikasi dan tambahan penghasilan perlu, namun tidak kalahperlunya adalah kehadiran Anda di depan kelas secara rutin. para siswa menanti Anda.*****

No comments:

Post a Comment