Monday, January 03, 2005

Pemanfaatan Teknologi Informasi Dalam Peringatan Awal Terjadinya Bencana Alam

Tadi malam, sebuah email nyasar ke mailbox-ku. Tak seperti biasanya, kali ini aku membuka kiriman email tersebut, karena subjeknya bukan seperi spam yang sekarang sudah menggila, dan pengirimnya-pun rasanya saya kenal. Si pengirim adalah K. Srinivasan, Faculty and Project Coordinator Telehealth, Indian Institute of Information Technology andManagement, KeralaTechnoparkTrivandrum.

Dalam email yang ditujukan ke rekan - rekan yang tergabung dalam milist egov4dev Srinivasan mempertanyakan bagaimana IT atau teknologi lain dapat membantu dalam manajemen penanggulangan Bencana Alam sebagaimana dialami di bebeberapa negara yang diterjang badai Tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang lalu. Seperti kita ketahui wilayah India selatan, Sri Langka, Thailand Barat Daya, Malaysia di pantai Barat, Kepulauan Nicobar, Maladewa, dan Nangru Aceh Darussalam (NAD) di Indonesia, mengalami kerusakan hebat dan kehilangan ratusan ribu nyawa manusia akibat gempa dan badai tsunami.

Srinivasan mengatakan ternyata Sistem Penyebar-luasan Peringatan Bahaya (Disaster Warning Dissemination System) yang dibangun di pantai barat dan timur India tidak efektif dan terbukti tidak mampu memberikan peringatan akan terjadinya gempa maupun badai tsunami. Sistem tersebut bekerja berdasarkan data yang dikirim dari satelit, sementara satelit yang dipercaya mampu memonitor gejala alam tidak dapat memerikan sinyal kepada sistem di darat, sehingga kerugian besar lah yang harus ditanggung.

Melihat pengalaman Srinivasan, saya membandingkannya dengan sistem peringatan gempa yang sudah berhasil dibangun oleh Jepang (Kompas, 28 Desember 2004) dan mampu memonitor sebagian wilayah Samudera Pacific. Sistem ini dibangun mengingat Jepang merupakan wilayah yang rawan gempa. Sepanjang yang telah terjadi, sistem ini berhasil memberi peringatan kepada penduduk Jepang manakala akan terjadi gempa atau tsunami.

Persoalannya, keberhasilan Jepang belum ditularkan ke negara - negara yang dilanda bencana. Hal ini menimbulkan pertanyaan sensitif terhadap eksistensi tekmnologi, jika teknologi tidak dapat membantu atau dimanfaatkan di saat dibutuhkan, lalu apa pula peran teknologi bagi kemaslahatan manusia? Mencoba menjawab persoalan ini, saya mengajukan pre-posisi bahwa teknologi tidak dapat disalahkan, teknologi sejatinya adalah benda mati yang menurut saja kepada manusia yang menciptakannya, memilikinya, dan atau mengoperasikannya.

Jika kita cermati, ada banyak sekali liputan di berbagai media massa, ulasan dan kajian para pakar mengenai peran teknologi khususnya Teknologi Informasi (IT) di berbagai aspek kehidupan manusia yang semuanya menggambarkan hal positif. Manfaat IT yang sedemikian besarnya tersebut menjadi tiada artinya bagi korban bencana alam, apabila para pencipta, pemilik, dan operatornya tidak mampu memberi peringatan akan adanya bencana alam.

Bencana alam tidak dapat dicegah, tetapi Teknologi Informasi dapat digunakan untuk memperkecil kerugian dari akibat yang ditumbulkannya. Sudah saatnya Teknologi Informasi dibangun dan digunakan untuk memperkirakan atau mengetahui gejala - gejala alam yang biasanya muncul mendahului bencana alam.

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Rempoa, 3 Januari 2005


No comments:

Post a Comment