Wednesday, April 11, 2007

Solusi Perselisihan Ala Kampung




Libur Paskah Jum'at kemaren yang setelah digabung dengan libur sabtu dan minggu menjadi libur tiga hari kami - saya dan istri - gunakan untuk pulang ke rumah orang tua di Klampok, Banjarnegara.

Sabtu pagi, seperti biasa kalau sedang pulang kampung, saya gunakan untuk jalan-jalan ke sawah, melihat-lihat apa yang sedang terjadi di pesawahan. Terlihat, seseorang sedang memangkas rumput di pematang, ada lagi yang sedang mengendarai bajak yang ditarik dua ekor kerbau, sementara anak kerbau berlari kesana kemari di tanah sawah yang akan dibajak untuk ditanami lagi.

Selagi asyik memotret terdengar bunyi traktor mendekat, saya berpaling, rupanya traktor menarik kereta (aanhang) yang berisi rotary yang akan dipakai untuk meratakan tanah sawah sehabis dibajak. Dengan takzim si pengemudi traktor menyapa saya dan kamipun saling sapa. selewat traktor, saya kembali asyik mengamati sekelompok pria yang akan memotong padi, panen. Rupanya, sekarang ini, siklus tanam padi di kampung kami sudah tidak serempak lagi seperti dulu waktu saya masih tinggal di kampung. Sekarang, ada yang sedang membajak, meratakan tanah bajakan, ada yang sedang memanen, tetapi ada juga yang sudah mulai menanam. Entah, ketidak-serempakan ini ada dampak kepada harga beras atau ketahanan terhadap hama.

Selagi asyik memotret para pria ini, tiba-tiba terdengar kedubrak. rupanya traktor yang baru saja lewat bersinggungan dengan sepeda motor yang membawa ayam ketika traktor menikung di pertigaan tidak jauh dari tempat saya berdiri. Traktor lalu berhenti, sepeda motor dipinggirkan, dan ayam-ayam ras (10 ekor) keluar dari keranjang yang terjatuh dari sepeda motor. pedagang ayam pengendara sepeda motor meringis kesakitan. Pengendara traktor beserta empat orang rekannya, membantu pedagang ayam, mengumpulkan kembali ayam-ayam yang terlepas dari keranjang.

Semua kejadian ini saya perhatikan dari jarak sekitar 50 meter, sambil memerkirakan apa yang aan terjadi. Mereka berenam (5 orang traktor, plus pedagang ayam) terlihat duduk jongkok di pinggir jalan, saling bicara. Karena penasaran, akhirnya saya mendekat dan akhirnya tahu, mereka sedang tawar-menawar ganti rugi. Pedagang ayam meng-klaim minta ganti rugi 250 ribu untuk mengganti keranjang yang jebol, 1 ekor ayam yang mati, dan kerusakan sepeda motor. Pihak traktor mengatakan hanya sanggup mengganti 50 ribu untuk ganti ayam yang mati, keranjang bukan baru dan masih bisa dipakai, kerusakan sepda motor bisa diperbaiki oleh mereka.

Sambil senyum dan menyapa orang -orang yang melintas di jalan, saya mendengarkan percakapan mereka. tuntutan pedagan ayam semula 250 ribu turun jadi 150, pihak traktor bersedia mengganti 75 ribu. Sambil ngedumel pedagang ayam bangkit dari duduknya dan mengemasi barang-barangnya sambil berkata, ya sudah tidak usah diganti ya tidak apa-apa, tega. mendengar teriakan pedagang ayam , kelompok traktor berkata, lha ini kami cuma punya 75 ribu. akhirnya pedagang ayam bilang, ya sudah seratus saja. Tiba-tiba datang si pemilik traktor, setelah menanyakan kepada anak-buahnya si pemilik menambahi lagi 15 ribu sehingga toal 90 ribu dan diserahkan kepada si pedagang ayam. dengan ogah-ogahan diterima oleh padagang ayam, sambil menyalakan sepeda motornya.

tiba-tiba salah seorang dari kelompok traktor berseru, memerintahkan kepada salah satu anggotanya untuk mengambil ayam yang mati. mendengar seruan itu si pedagang ayam protes, tetapi protesnya tidak ditanggapi dan tetap saja ayam yang sudah mati diambil kelompok traktor. pedagang ayam pasrah. ketika sepeda motor mau dijalankan ternyata pedal perseneling-nya tidak berfungsi. si pedagang ayam lalu memanggil kelompok traktor untuk memerbaiki sepeda motornya. salah seorang lainnya (rasanya yang bertugas sebagai mekanik) langsung mengambil kunci dan memerbaiki sepeda motor tersebut. selesai dan pedagang ayam pergi begitu saja.

Saya tanya kepada kelompok traktor, untuk apa ayam mati tersebut? dijawab seseorang, "dikubur Mas", lho emang kenapa? bukankah mas pedagang ayam bisa menguburnya? tanya saya. dijawab, biasanya sih tidak Mas, ayam mati seperti ini bisa dijual jadi sate atau bahan soto ayam. Biar orang lain tidak makan bangkai maka ayam mati ini kami minta untuk dikubur.

Pembaca, itulah sedikit wajah interaksi sosial di pedesaan, desa Klampok, Kalilandak, tempat orang tua saya bermukim. Jika kita perhatikan, semual saya pikir enam orang lawan satu orang pasti akan tidak seimbang, pihak traktor mengakui kesalahannya, namun bersedia mengganti apa yang hilang saja (ayam, dan sedikit kerusakan sepeda motor), pedagang ayam, menuntut agar keranjang ayamnya juga ikut diganti, namun diperbaiki oleh kelompok traktor. Terjadi proses negosiasi, yang satu turun, lainnya naik, titik keseimbangan pada angka 90 ribu. Kelompok traktor menduga ayam yang mati akan ikut dimasak dengan ayam yang masih hidup, jika demikian maka pelanggan pedagang ayam akan makan bangkai, oleh karena itu ayam mati tersebut diminta dan dikubur.

1 comment:

  1. Cerita yang menarik... masalah yang memang sering terjadi di lingkungan kita - cuma kita kadang2 kurang peka bahkan tidak sama sekali.
    Tetapi biasanya di pedesaan semua bisa dibicarakan dengan jalan musyawarah... dari alur cerita kejadian tapi sebelum terjadi kesepakatan dibutuhkan perjuangan yang yang cukup alot dengan argumentnya masing2... walau akhirnya terjadi kesepakatan dengan mengganti 75 ribu dan di tambah 15ribu..
    (tukang ayam rugi 1 ekor deh..)Padahal biasanya dari melihat medan kejadian lokasinya cukup sepi wong di pinggir sawah..
    ceritanya Asik Juga pak... salam kenal... riva.f

    ReplyDelete