Thursday, October 18, 2007

VIetnam Mengalahkan Indonesia?

Cerita dikit,

Saya pernah empat kali pergi ke Vietnam (2 kali ke Hanoi), sekali ke Da Nang, dan sekali ka Ho Chi Min City (dulu Saigon). selain itu, room-mate waktu di NUS dulu juga orang Vietnam (Nguyen Dhue Khien). Selain Khien, teman - teman Vietnam seangkatan maupun kakak dan adik kelas (di LKY-SPP-NUS) ada belasan.

Kesan saya atas Vietnam? Pertama kali ke Hanoi (1998) rasanya seperti kota Purbalingga (di Jawa Tengah) atau Garut (Jawa Barat) di masa saya kanak-kanak (akhir 60-an). Sepeda di mana - mana, mobil bagus jarang sekali terlihat. Bis antar-kota body-nya masih banyak yang pakai kayu, mirip angkot di kota Palembang tahun 80-an. masih sedikit yang berbahasa inggris. tahun 2002 saya ke Hanoi lagi, wajah kota sudah berubah. Hotel bintang lima (Melia Sol) sudah berdiri, sepeda masih
banyak, tetapi yang bersliweran menguasai jalan raya sepeda motor, bukan sepeda onthel lagi.

Teman-teman sekolah di LKY-SPP-NUS yang sudah kembali sebagai pejabat pemerintah maupun bumn vietnam, berjalan dengan rasa penuh percaya diri, meski masih naik sepeda motor. Khien (room mate saya) sudah jadi pejabat pemerintah setingkat eselon satu (kalau di Indonesia se-level Dirjen atau Deputy Menteri), datang ke hotel ketika menemui saya masih
pakai sepeda motor, mengenakan jas & dasi. pemandangan yang mungkin tidak pernah ada di Indonesia. ketika saya dijamu oleh schoolmates (alumni LKY-SPP-NUS) yang sebagian besar bekerja di pemerintahan, pembicaraan mereka lebih banyak tentang Vietnam masa depan, khususnya tentang perekonomian, seingat saya tidak ada satupun yang komentar tentang politik praktis, meski pada waktu itu pembicaraan soalan politik sudah bukan lagi tabu di Vietnam.

Tahun 2003 saya ke Da Nang, kota yang dulu menjadi basis pertahanan tentara Amerika. Da Nang relatif lebih ramai dari pada Hanoi. banyak sekali peninggalan sejarah Vietnam kuno di kota ini. Pada kali ini, keperluan kunjungan adalah untuk pertemuan bisnis, khususnya dengan pelaku (operator) telekomunikasi Vietnam. Dalam beberapa hal saya lihat teknisi vietnam masih kalah dari teknisi Indonesia dalam segi kuantitas maupun kualitas. namun yang saya kagumi dari mereka adalah rasa nasionalisme yang tinggi. kebanyakan orang vietnam menurut saya humble, malahan cenderung rendah diri. tahun 2003 itu saya lihat di Da Nang sudah ada beberapa Internet Kiosk yang pakai wireless access pakai ISM Band. teman saya (Quoc) malahan memodifikasi HP Ipaq untuk telepon pakai sykpe gratis, dan dia ajarkan bagaimana nge-set-nya
kepada sahabat vietnam-nya.

Tahun 2004 beberapa hari saya mengunjungi Saigon (HCM city), kotanya lebih ramei dari kedua kota terdahulu. aktivitas perekonomian juga ramai sekali. perkembangan pemanfaatan komputer dan internet sama hangatnya dengan Indonesia pada waktu itu.

Di Forum APECTEL-WG yang saya ikuti dari 1997-2003, Vietnam juga menunjukkan kemajuan yang konsisten. Astra Internasional (perusahaan Indonesia) pernah punya pabrik perakitan Daihatsu di Hanoi. Demikian pula Ciputra Group punya proyek Real Estate di Hanoi yang menjadi kebangaan warga Hanoi. dan satu hal lagi, sejak dibukanya kembali hubungan diplomatik USA-Vietnam, arus masuk FDI ke Vietnam mengalahkan Indonesia lho.... (coba aja lihat statistik-nya). hubungan emosional warga negara USA yang dulunya imigran dari vietnam ternyata juga memberi andil bagi laju kemajuan vietnam.

Jadi, jika satu dekade lalu Indonesia sudah terlewati oleh Malaysia dan SIngapore, jika mentalitas dan kinerja warga Indonesia tidak mengalamiperubahan signifikan saya memprediksi, satu dekade ke depan (2015) vietnam sudah melewati Indonesia.*****

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Maswig yang baik, masih ingat saya 'kan? Udah lama tidak mampir ke blog Maswig ini (hihihi risih manggil nama doang, abis Mas Maswig agak awkward ngetiknya).

    Apa kabar kandidat doktor kita nih? Atau sudah doktor ya? Sukses ya, mudah-mudahan saya bisa berguru ke Maswig nih. Boleh saya link ya ke blog saya? Danke!

    ReplyDelete