Sunday, October 04, 2009

Batas Nalar dan Iman

agama, menurut sebagian ahli, berdasarkan asal-usulnya, dibedakan ke dalam dua golongan: yang berasal dari Tuhan dan berasal dari kreasi manusia (yang memperoleh pencerahan). agama apapun menjanjikan surga dan neraka sebagai pembalasan atas apa yang manusia lakukan selagi masih hidup di alam dunia. majoritas manusia di dunia memeluk agama. di antara pemeluk agama ada yang sangat taat, banyak taat, kadang-kadang taat, sedikit taat dan sama sekali tidak taat. tingkat ketaatan dalam menjalankan ajaran agama yang dianut secara umum mestinya mencerminkan tingkat baik-buruk perilaku manusia dengan acuan ajaran agama tertentu. benarkah demikian?

di pihak lain, ada kelompok manusia yang mengaku dirinya tidak ber-Tuhan dan tidak ber-agama, atau mengenal Tuhan tetapi tidak percaya agama. sebagai manusia, dua kelompok terakhir ini pun berperilaku dalam continuum dari sangat baik hingga sangat jahat.

dari dua paragraf di atas dapat dipertanyakan, apakah ada hubungan dan pengaruh antara ber-Tuhan atau tidak ber-Tuhan, dan ber-agama atau tidak ber-agama dengan baik-buruknya perilaku secara umum? saya tidak tahu apakah pernah ada orang yang memperkarakan ihwal semacam ini. mudah -mudahan ada, sehingga saya bukan orang pertama yang menyoalnya. logika umum menyatakan orang yang ber-Tuhan dan ber-Agama tentu perilakunya lebih baik dari yang tidak ber-Tuhan dan tidak ber-Agama. faktanya? bukankah secara nominal, bukti empirik menunjukkan pelanggaran hukum Agama justru dilakukan lebih banyak oleh manusia ber-Agama dari pada yang tidak ber-agama? wah mengapa demikian? Ah jangan-jangan maswig sedang gundah, bingung atau sedang mengajak orang untuk tidak ber-Agama.

Bukan itu, wacana ini disajikan justru untuk mengajak agar manusia ber-Agama lebih mencintai lagi, lebih mau menjalankan perintah-perintah agamanya masing-masing. bagaimana bisa?

begini, dalam artikel sebelumnya saya menyinggung surga dan neraka sebagai sebuah janji pembalasan yang kemudian dengan kemampuan nalar, saya katakan sebagai pencegahan dari pada penindakan. mencegah manusia dari berbuat jahat dan dosa, melanggar perintah Tuhan. selanjutnya, sebagai sebuah janji, untuk dapat merasakan nikmat atau derita mesti menunggu sampai ruh manusia masuk ke alam akhirat, meninggalkan jasad di alam dunia. di luar itu, selagi manusia masih ada di alam dunia, Tuhan memberikan kebebasan serta kemampuan berpikir dan bertindak. Kebebesan yang diberikan Tuhan ini bukan absolut, karena ia dibatasi oleh hukum Tuhan yang tertuang dalam kitab yang dibawa oleh para Utusan Tuhan (the Messengers of God).

nah di sinilah permasalahannya, di satu sisi manusia ber-agama tunduk akan sifatnya sebagai makhluk TUhan, dan mengerti serta meyakini aturan TUhan yang tertuang dalam Agama, namun karena pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan dan Agama hanya dihukum dengan janji akan diberi neraka, sementara jasad pelaku pengingkaran tidak lagi dapat merasakan eksistensi neraka, tidak aneh bila semakin banyak manusia yang berani meninggalkan perintah dan laranganNya. dengan kalimat ini apakah berarti saya melemahkan eksistensi TUhan? tidak juga. sifat Tuhan tidak berubah, apakah manusia ciptaannya taat atau ingkar, Tuhan tetap yang Maha Perkasa.

di pihak lain, sebagian orang yang memosisikan dirinya taat, perlu membuat diri mereka berbeda dari orang yang ingkar. namun demikian, walaupun taat serta percaya bahwa Tuhan akan membalas apapun perbuatan manusia, tetapi karena ada balasan TUhan yang tidak seketika, maka dengan ajaran agama yang dibawa oleh para Utusan Allah, mereka ingin menyegerakan menghukum orang lain yang dianggap tidak taat. di titik inilah muncul para "pembela agama". persoalannya, apakah agama perlu dibela? apakah Tuhan perlu dibela? jika saya jawab Ya, sebagaimana mereka yang meng-klaim dirinya pembela Agama, secara tidak langsung berarti saya menganggap bahwa agama yang dibawa para Rasul itu lemah sehingga perlu dibela; agama yang diajarkan para RAsul itu ada kekurang-sempurnaan sehingag perlu dibel; Tuhan itu lemah sehingga perlu dibela. Padahal Tuhan yang menciptakan manusia. mestinya manusia mengakui keperkasaan Tuhan, bukan. padahal, Tuhan melalui RasulNya menyatakan Agama (Islam) itu sempurna. Jadi siapa yang perlu dibela oleh manusia? menurut nalar saya, yang perlu dibela oleh manusia ya manusia lainnya, alias sesama manusia saling membela dan melindungi.

melindungi dari apa? dari tindak kejahatan manusia lain yang merugikan manusia lain, seperti membunuh, menipu, mengganggu kehormatan, menganggu keyakinan, mencuri, dan lain sebagainya. jadi wahai manusia, belalah dirimu sendiri, bukan membela apa yang lebih tinggi kedudukannya dari dirimu.

kembali ke masalah pembalasan, apakah manusia yang ketika hidup di dunia tidak mengakui eksistensi Tuhan dan tidak ber-agama otomatis kelak akan mendapat jatah neraka? Tuhan dalam hukumNya yang tertuang dalam Kitab Suci yang dibawa para Rasul memastikan jawabnya. YA. persoalannya, bagi sebagian orang yang lebih banyak mengandalkan daya pikir, masih dapat beragumen "berikan buktinya!", atau "apakah sudah ada bukti empirik?" atau lebih jauh lagi, ini khususnya bagi mereka yang suka ingkar, "biarlah neraka, toh jasadku akan membusuk duluan di tanah kubur, sama akan membusuknya seperti mereka yang taat."

di sinilah batasnya ke-iman-an yang berujung taqwa. bagi yang ber-Iman namun takut ke-iman-annya terganggu tentu akan berhenti pada batas nalar, dan kemudian menguatkan hukum Tuhan sebagai suatu keyakinan. bagi yang ingin memperkuat keimanan dan keyakinan, bisa jadi belum berhenti sampai di situ, ia akan terus berkelana mencari tahu rahasia Tuhan, bukti surga neraka, sampai kuasa Tuhan memberikan pencerahan atau membiarkannya saja. wallahu alam bisawab.

No comments:

Post a Comment