Sunday, October 04, 2009

Kisah Nyata: Optimisme dan Pengeluh

Saya baru balik dari Kalimantan, kebetulan ada bisnis dengan BUMN Listrik Wilayah Kaltim (menyewakan generator pembangkit listrik). Dan kebetulan lagi, eh ternyata satu dari beberapa orang yang saya temui, adik kelas sewaktu sekolah di STM Pembangunan Semarang. Kisah di bawah ini, cerita nyata tentang Sukarno, adik kelas saya yang sekarang bekerja di BUMN tersebut cabang Kaltim, yang mungkin dari situ kita (terutama saya) bisa mengambil hikmahnya.

Ceritanya, 10 (tahun 1998) tahun lalu Karno masih jadi teknisi listrik di Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang dimiliki dan dioperasikan oleh PLN Kaltim. Suatu hari, ia ditugasi untuk service dan memperbaiki switchgear tegangan 20KV, berdua dengan rekan sejawatnya (sebutlah namanya Djoko). bersamaan dengan mereka berdua ada seorang siswa STM (sebut namanya Agus) yang sedang kerja praktek.

Setelah semua prosedur dilakukan, termasuk mematikan aliran listrik, melepas circuit breaker dan lain sebagainya sesuai dengan SOP yang berlaku, Karno masuk ke Cubical. Cubical ini masih model lama (warisan Belanda, yang tidak ada lampu otomatis menyala ketika pintu dibuka). Ketika Karno masuk ke cubical, Djoko mengawasi dari luar sambil memegangi lampu senter. Kondisi ruangan di dalam cubical agak gelap karena cahaya lampu terhalang oleh cable conduit dan Bus Bar 20KV. Rupanya Agus yang diperintahkan untuk menunggu tidak jauh dari cubical pengin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh kedua orang ini, tanpa sepengetahuan Djoko dan Karno, Agus berjalan ke arah sisi lain dari cubical untuk melihat keduanya bekerja.

Tanpa disadari oleh Agus, di balik cubical di bagian atas ada batang besi penghantar (busbar) 20KV dari transformer menuju circuit breaker lainnya yang sedang life, dan karena posturnya yang tinggi, pas berdiri di belakang punggungnya Karno (yang sedang duduk di lantai cubical), Agus tersengat listrik 20KV. badan Agus menyentuh badan Karno, sehingga Karno ikut kena setrum.

Apa yang terjadi kemudian? badan Agus hangus, dengkul Karno menyentuh sisi cubical dan cubical setebal 4 mm jebol berlubang, pantat Karno hancur, muka, tangan dan sebagian besar badannya hangus. dua buah generator masing-masing berkapasitas 20MW trip, meskipun kejadian hanya berlangsun 3 seconda saja. Agus akhirnya meninggal setelah tiga hari dirawat di rumah sakit. Karno berhasil diselamatkan dan sampai sekarang masih bekerja di PLN Samarinda, posisinya saat ini Manager Unit Pembangkitan.

Apa yang membuat Karno berhasil sehat kembali? Selain karena kuasa Allah SWT, ternyata optimisme dan semangat hidup Karno tinggi sekali. Enam hari tidak sadarkan diri, dioperasi plastik sampai 11 kali, wajahnya direnovasi, diambil kulit dari sekujur bagian tubuh yang masih utuh. dirawat di rumah sakit selama 6 bulan, dan selama itu tidak pernah mengeluh sedikitpun. Awalnya anggota badan (kaki, dan tangan termasuk jari jemari) tidak bisa digerakkan. dengan semangat keras, Karno berusaha menggerakkan anggota badannya, meski - katanya - sakit sekali. teman-teman sekantor yang diwajibkan untuk menjagainya (karena waktu itu keluarga Karno masih di Semarang) tidak pernah mendengar sekalipun teriakan atau keluhan dari mulutnya. selama dua bulan sebelum dinyatakan boleh pulang dari rumah sakit, setiap saat Karno berlatih menggerakkan anggota badannya. Hasilnya, ketika sembuh, walau punggung masih bolong selebar bola pingpong (di bagian ini, Agus menyentuh badan Karno), dan kulit masih seperti sisik ikan, bekas luka bakar, namun sudah bisa berjalan dan memegang sesuatu dengan benar. Sampai sekarang Karno sehat wal afiat.

Selain cerita Karno, ada lagi cerita (sebutlah Imran) yang juga mengalami kesetrum listrik tegangan 20KV, namun tidak se-dramatis peristiwa Karno. ceritanya, Imran ditugasi membersihkan switchgear. Setelah menyapu lantai (jadi ingat waktu saya masih jadi electrician di Arjuna Sakti dan Quarters), Imran melihat panel breaker kotor. maka dengan maksud membersihkan, dia kibaskan kain ke panel tersebut. apa lacur, entah kenapa, sewaktu mengibaskan kain tersebut, tangannya tertarik ke panel dan kesetrumlah ia. tangan kanannya hingga muka bagian kanan hangus luka kesetrum listrik tegangan tinggi.

Imran dibawa ke rumah sakit, dirawat selama 4 bulan. selama perawatan lebih banyak menggerutu, mengeluh dan menyalahkan orang lain, serta yang kemudian berpengaruh sampai hari ini, dia tidak melakukan latihan seperti yang dilakukan oleh Karno. Walhasil, setelah luka bakarnya sembuh, jari - jari hingga lengan tangan kanan tidak bisa digerakkan, kaku dan - maaf - jadi bengkok seperti tangan Gareng. sekarang Imran masih bekerja tetapi sudah tidak bisa pulih seperti sebelumnya. mau pensiun usianya masih muda, tidak pensiun praktis sudah tidak produktif lagi. Pimpinan masih memberinya tugas sebagai tenaga pembantu administrasi.

Kisah nyata teman saya Karno dan Imran, membuka mata dan hati saya, ketika dihadapkan pada suasana tidak menguntungkan atau sangat sulit, optimisme dan kerja nyata (latihan yang dilakukan oleh Karno) pada akhirnya memberi hasil lebih bagus dari pada hanya mengeluh, menyalahkan orang lain, berdiam diri, hanya menerima nasib (seperti yang dilakukan oleh Imran).

1 comment:

  1. subhanallah
    smg qt bs trs bersyukur
    :)

    ReplyDelete