Sunday, October 04, 2009

Menghadirkan Surga dan Neraka Selagi Masih Hidup Di Alam DUnia, Mungkinkah?

setiap umat beragama pasti percaya dan yakin akan eksistensi surga dan neraka. suatu "tempat" yang telah disediakan kelak ketika manusia sudah tiba di alam akhirat, alam kelanggengang. surga dijanjikan sebagai "tempat" yang diliputi kenikmatan, penuh pesona nan tiada tara. di pihak lain, neraka dijanjikan akan ditempati oleh mereka yang ketika masih hidup di alam dunia berperilaku jahat, ingkar kepada Tuhan.

sebagai anggota dari umat beragama, yang diberi karunia kemampuan berpikir, bernalar, saya seringkali berwacana pada diri sendiri, apakah untuk menyaksikan dan tinggal di surga atau neraka mesti menunggu sampai mati, jasad ditinggalkan oleh ruh, jasad masuk liang lahat, ruh pergi entah ke mana? jika begitu lama, dan demikian adanya, apakah hal ini tidak berarti bahwa surga dan neraka itu sebagai suatu tempat yang akan digunakan untuk menampung ruh kita? lalau kalau hanya dengan ruh, bagaimana kesadaran kita (sebagai wujud manusia) masih bisa merasakan nikmat surga dan atau siksa neraka? dalam keterbatasan kemampuan nalar, saya berpendapat, bahwa yang dapat merasakan nikmat dan siksa adalah raga (fisik) yang di dalam raga tersebut masih dihidupi oleh ruh atau nyawa.

ketika ruh atau nyawa sudah tidak menetap di raga, baik karena kondisi raga tidak mampu lagi mendukung eksistensi nyawa; atau raga masih sehat, kuat dan mampu, namun ruh atau nyawa sudah tidak menghendaki atau ditugasi (oleh Allah) lagi utuk meninggalkan raga. dalam kondisi seperti ini, disebut mati, dan raga tidak memiliki kemampuan lagi merasakan, sementara barangkali, nyawa atau ruh juga tidak punya alat lagi untuk merasakan suasana alam manusia.

dengan bermonolog seperti tersebut di atas, saya mereka-reka, mungkinkah surga dan neraka yang diajarkan kepada manusia, sebagai suatu konsep pencegahan dari pada penindakan. dalam tataran konsep, surga dan neraka itu sama saja, keduanya sebagai wahana untuk pembalasan baik dalam bentuk reward maupun punishment. yang membedakan hanyalah positioning-nya saja. surga diposisikan sebagai tempat penuh kenikmatan, kesenangan; di pihak lain neraka merujuk pada suatu tempat untuk penyiksaan, derita. namun sampai di sini pertanyaan kembali muncul bagian mana dari ke-manusia-an kita yang masih dapat merasakan nikmat dan atau siksa setelah jasad remuk hancur dimakan ulat.

selain itu, saya juga sering bermonolog. bukankah alam dan jagad raya itu representasi dari Allah? sama seperti ada sepatu tentu ada pembuatnya. sang pembuat kekuasaannya (power) tentu lebih dari yang dibuat. kalau tiada yang dibuat maka tiada pula yang membuat. premis dalam kalimat terakhir ini bisa jadi kurang kuat, karena bukankah bisa saja si pembuat dengan kuasaNya tidak mau membuat apa - apa. kenyataanya telah banyak tak terhitung materi yang dibuat oleh Sang Pembuat. artinya, walaupun premise-nya lemah, namun buktinya kuat. kenapa demikian? jawabnya, untuk membuktikan eksistensi Sang Pembuat. sama dengan manusia, Anda tidak pernah akan dikatakan pembuat sepatu bila tidak pernah membuat sepatu.

lantas, adakah Sang Pembuat berkeinginan menghancur-leburkan karyaNya? walau ada pelajaran yang menyatakan bahwa bumi dan alam raya akan hancur, dengan keberanian nalar saya mengartikannya berbeda. kalau pembuat sepatu menghancurkan sepatu buatannya dan kemudian tidak lagi membuat sepatu, maka ia akan disebut mantan pembuat sepatu. hal ini tentu berbeda dengan pembuat sepatu memodifikasi sepatunya dengan memotong, mengurangi dan menambah di sana - sini sehingga muncul sepatu baru hasil pengembangan dari sepatu lama. jika hal ini dilakukan secara terus menerus, eksistens sebagai tukang sepatu akan hidup terusdan sepatunya akan terus bermanfaat. demikian juga kiranya dengan alam raya ini, Sang Pembuat dengan kuasaNya, tidak akan menghancur-leburkan sehingga merupa debu dan meniadakan sifat benda dunia. manusia pencetus Hukum kekekalan energi sudah diberi pencerahan akan tidak dihancurkannya alam raya. apa yang terjadi? modifikasi alam. gempa bumi, banjir, kekeringan, gunung meletus dan masih banyak lagi, bagi saya semuanya merupakan upaya modifikasi agar keseimbangan alam senanatiasa terjaga. mereka (yang kemudian disebut sebagai bencana) juga merupakan sinyal bahwa Sang Pembuat masih eksis, dan pasca "sinyal" akan muncul keseimbangan - kesimbangan baru.

surga dan neraka juga merupakan konsep keseimbangan. jika ditarik pada kebiasaaan yang terjadi di dunia manusia, bukankah banyak bukti yang menunjukkan tiada beda antara nikmat dan derita? Nikmat yang amat nikmat, nikmat yang rasa nikmatnya terlalu lama, bukankah akan berubah menjadi siksa dan derita? saya kasih contoh, anda suka makan soto ayam ambengan, dan soto ayam ambengan memang nikmat, bukan? jika disajikan semangkok-dua mangkok tatkala lapar, nikmat bukan? tetapi saya yakin anda tidak akan pernah mau jika terus menerus, setiap saat dikasih makan soto ambengan tiada berhenti. akan berubah jadi siksa.

siksa dan derita-pun jika terjadi pada kurun lama, berangsur akan menjadi nikmat. mau contoh? coba tanya kepada mereka yang dipenjara karena melakukan kesalahan. pada hari, mingggu dan bulan - bulan pertama stres, marah, derita itu yang dirasakan, namun pada bulan ketiga menjelang keempat sudah merasakan nikmatnya tinggal di penjara. setidaknya itulah yang saya dengar dari seseorang teman yang pada hari ini masih harus tinggal di penjara karena dihukum dengan tuduhan melakukan pidana publik.

jadi baik nikmat dan derita, pada kenyataannya hanya bersifat sementara (short term), ketika nikmat dan derita berusia panjang (long term) maka keduanya akan saling bertukar yang satu menjadi lainnya, nikmat berubah menjadi derita, demikian pula derita menjadi nikmat.

kembali ke atas, jika dikatakan surga dan neraka itu suatu tempat yang menandakan suasana alam kelanggengan dengan sifat tetap, yang nikmat tetap nikmat dan derita tiada berubah, maka pertanyaan berikutnya, apakah tidak ada hubungan sifat alam dunia dengan sifat alam akhirat. mencoba menjawab pertanyaan ini, saya menemukan ambiguity. pertama, ya ada hubungan, surga dan neraka adalah sarana pembalasan atas apa yang dilakukan manusia ketika masih hidup di alam dunia, jadi ada hubungan positif. sebaliknya, untuk sifat alam dunia dan alam akhirat, tidak ada hubungan. jika di dunia nikmat dan derita saling berubah, di alam akhirat nikmat dan derita sifatnya langgeng. walau dalam keyakinan Islam, akan ada yang masuk neraka, setelah menjalani siksaan untuk waktu tertentu baru dientaskan ke surga.

masih penasaran juga. apakah untuk merasakan surga dan neraka harus mati dari alam dunia dulu? apakah tidak ada cara lain untuk merasakan surga dan neraka selagi masih hidup di alam dunia? saya berani mengatakan, "karena Allah Maha Kasih dan Maha Adil" maka keinginan untuk merasakan surga dan neraka selagi masih jidup di dunia dapat dikabulkan. bagaimana caranya?

jangan lupa surga dan neraka sebagai konsep pembalasan, ada hubungan sebab akibat di dalam konsep surga neraka ini. ada juga konsep keseimbangan. selain itu, di dalam surga dan neraka juga mengandung konsep non-ragawi, non-fisik, jadi lebih kepada jiwa, ruh, nyawa. kemudian, surga dan neraka itu sifatnya langgeng, tetap untuk waktu yang tidak berbatas. bukan temporer. nah bila kita dapat menghadirkan tiga karakter surga neraka di dalam kehidupan di alam dunia, secara teoretis manusia dapat menghadirkan surga dan neraka di alam dunia. wallahu alam bisawab.

No comments:

Post a Comment