Sunday, October 04, 2009

taqwa hanya ada apabila ada iman, iman terwujud bila ada ikhtiar dan ikhlas

niatku hanya mau share apa yang kulihat semalam di televisi BBC Knowledge, dan beberapa buku yang kubaca hari-hari belakangan ini siapa tahu bermanfaat.

semalam di BBC Knowledge aku menyaksikan tayangan perjalanan seorang pendeta (pelayan umat) Kristen warga negara inggris yang sedang berupaya mencari Tuhan. Jones, demikian nama pria ini, sudah mengelana ke Cina untuk mendalami Theologi Budha, kemudian dia pergi ke India untuk "mencari" Tuhan sebagaimana dilakukan umat Hindu di India. tayangan semalam, dia pergi ke Mesir untuk menapak-tilasi, menirukan dan merasakan apa yang dahulu, 1800 tahun lalu, dilakukan oleh Saint (orang suci) Antonius dengan mengasingkan diri di gua di gurun pasir Mesir.

dari buku dan tayangan TV tersebut, saya kombinasikan, ada dua hal menarik yang menurut saya layak kita ketahui. pertama, jiwa manusia merupakan cermin dari eksistensi Tuhan Allah, jiwa manusia sebagai microcosmic sedangkan Allah dengan segala sifatnya merupakan marocosmic. cermin yang bersih, rata, dan bening akan memantulkan Nur-IIlahi yang bersifat baik, inilah tanda taqwa. sebaliknya cermin yang buram, legam dan tidak rata, tidak mampu memantulkan Nur-Illahi yang bersifat baik. Yang keluar dari cermin tersebut sebagian besar berupa cahaya hitam yang berasal dari sisi-sisi gelap alam (yang juga diciptakan oleh Tuhan Allah). Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa baik dan jahat keduanya berasal dari dzat tertinggi Maha Pencipta Alam.

manusia diciptakan dengan kesadaran nalar dan kemampuan berpikir. artinya, sama - sama makhluk, manusia diberi kebebasan untuk menentukan kualitas cermin jiwanya, apakah akan mengupayakan dirinya sebagai cermin bening atau legam. lantas apa yang mempengaruhi seseorang sehingga memiliki cermin yang berbeda-beda? jawabnya, Iman. Pertanyaannya, apakah Iman yang dimiliki seseorang itu diberi oleh Tuhan, atau terbangun karena upaya manusia itu sendiri? saya menduga, di dalam ruh atau jiwa manusia, sudah tertanam Iman, sejalan dengan perubahan fisik manusia, modal iman yang diberikan oleh Allah ini juga mengalami perubahan, ada yang semakin berkilat, halus, menguat dan bercahaya putih, ada juga yag tetap saja, atau ada pula yang berubah tidak berkilat, melainkan buram, hitam, kasar, bopeng, legam.

pertanyaan berikutnya, apakah yang buram, hitam, kasar, bopeng dan legam itu buruk, dan sebaliknya yang berklilat, halus dan bercahaya putih itu bagus? jawabnya tergantung di sisi mana kesadaran seseorang akan iman yang ada pada dirinya relatif terhadap orang lain itu berada. di sinilah barangkali titik singgung dengan teori relativitasnya Einstein. terlepas dari relativitas, yang masih perlu jawab adalah sebuah tanya teknis tentang bagaimana menggosok iman agar relative baik di mata manusia lain, dan secara mutlak bagus di hadapan sang Maha Mutlak Allah Azza Wajalla. Di sinilah berkah atau modal lain yang diberikan Allah perlu didaya-fungsikan. apa itu? tiada lain, Ikhtiar atau usaha dan Ikhlas atau sabar dan menerima sepenuh hati apa yang sudah menjadi hak dan kewajibannya. jadi taqwa hanya ada apabila ada iman, iman terwujud bila ada ikhtiar dan ikhlas.

hal kedua yang menurut saya menarik adalah, ketika ditayangkan ritual (tata cara) berdoa yang dilakukan oleh mereka (penganut Kristen Ortodok) yang masih setia mengikuti ajaran Kristiani sebagaimana diajarkan oleh Saint Antonius. Narasi menceritakan, St. Antonius adalah orang suci Kristiani pertama yang mengajarkan "pencarian Tuhan" dengan mengasingkan diri dari kerumunan manusia lain. Konon, biara seperti dikenal pada hari ini, yang mengawali adalah St. Antonius. Biara Kristen pertama di dunia ada di Mesir, yang sampai sekarang masih terawat dengan baik. diceritakan, sekarang ini ada sekitar 100-an rahib yang dengan setia menjalani hidup dalam kesunyian di bihara di tengah gurun pasir ini. walaupun terletak di tengah gurun, namun tanah di dalamnya subur, ada banyak bunga mawar dan berbagai tumbuhan lain terlihat hijau. yang menarik bagi saya, dan oleh karenanya saya sajikan di tulisan ini, dalam melakukan ritual berdoa, para rahib di dalam bihara ini mengerjakannya seperti orang Islam melakukan sholat. berdiri, mengangkat tangan, kemudian ruku' dan sujud. narasi menjelaskan bahwa cara berdoa seperti inilah yang dulu diajarkan oleh Saint Antonius mengikuti apa yang dia dapat dari Jesus. ditambahkan, Islam kemudian meng-adopt cara berdoa seperti ini, sementara penganut kristen modern sudah meningggalkannya.

di antara100-an orang pengikut Kristen Ortodoks ini ada satu orang yang tinggal sendirian (seorang diri) di dalam gua jauh terpisah dari yang lain. namanya Pastur Lazarus. dalam dialog antara Lazarus dengan Jones, Lazarus banyak mengajarkan ke-Tuhan-an, kedudukan manusia di hadapan Tuhan, hingga bagaimana berdoa. ternyata doa para rahib di bihara dan Lazarus menggunakan bahasa Arab (ini mungkin karena mereka warganegara Mesir), dan di-narasi-kan ke dalam bahasa Inggris, serta teks terjemahan dalam bahasa Indonesia yang persis sama dengan doa kita orang Islam, seperti misalnya "ya Allah ampuni kami."

jadi sementara ini saya membuat kesimpulan, yang semula berasal dari satu, perjalanan waktu membuatnya menjadi beragam dan berbeda, tujuannya untuk apa? agar di antara kita saling mengenal? kalau sudah saling kenal lalu apa? terjadi relasi. relasi ini salah satu bentuk ikhtiar. jika dilakukan dengan ikhlas akan menumbuhkan iman, dan bila iman sudah kuat akan membentuk taqwa. sedangkan taqwa itu tanda berterima kasih kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, kalau kita pada hari ini masih ribut soal perbedaan dengan kelompok lain, penganut agama lain, penganut paham lain dalam satu agama, dan sebagainya yang serba berbeda pada tataran ikhtiarnya (tata cara, ritual, hukum, syar'a adat, budaya, aturan, dlsb), maka, pada hemat saya, kita masih jauh dari mencapai target taqwa, berterima kasih kepada Sang Maha Pencipta.

No comments:

Post a Comment