Sunday, October 18, 2009

Perbaikan Jalan: Bodoh, Cuek, atau Korupsi?

Aku tinggal di Rempoa sudah hampir 20 tahun. Selama itu pula jalan raya Rempoa rasanya tidak permah atau jarang sekali mulus dalam tempo lama. Saya katakan "lama" untuk ukuran jalan tentu dalam kurun tahun, dua tahun lah paling tidak. dari catatan dan ingatan, usia jalan mulus paling lama dua sampai tiga bulan, sesudah itu jalan akan mulau berlubang lagi, untuk beberapa bulan dan tahun. begitu seterusnya,

Ada beberapa ruas jalan yang oleh warga diurug dengan sisa reruntuhan bahan bangunan, atau bahkan di-semen, namun hasilnya sama saja, tetap akan berlubang lagi. di ruas jalan masuk dari jalan raya ke komplek perumahan di mana kami tinggal, seingat saya sejak tahun 1991 sampai sekaranghanya diaspal satu kali saja. menjelang pilkada bupati tangerang di bagian depan sepanjang kurang lebih 30 meter diaspal halus. sisanya sepanjang 500 meter tetap saja dibiarkan berlubang, menahan laju ratusan kendaraan (termasuk truk tanah yang sedang mengurug situ untuk dijadikanperluasan sebuah komplek perumahan di atas lokas perumahan di mana kami tinggal), rus jalan ini sering dipakai parkir metromini, truck tanki atau bis yang entah siapa yang punya. semakin hari semakin merata lubang sehingga susah dibedakan mana jaan halus mana lubang kerana semuanya tiada lagi yang rata nan halus.

kembali ke jalan raya, dari arah pertigaaan situ gintung, sekitar dua tahun lalu ada tiga ruas jalan yang ditinggikan dengan disemen. ruas pertama tidak jauh dari pertigaan situ gintung sepanjang kurang lebih 100 meter, setelah ruas pertama ini jalan aspal kembali seperti tiada perubahan. ruas kedua, juga disemen, mulai dari pertigaan Mabad hingga ujung utara tembok Sandratex, kurang lebih sepanjang 400 meter, sesudah itu jaan kembali berlobang, besar dan jika hujan air tergenang mirip kubangan kerbau. ruas ketiga hanya sekitar 50 meter setelah klinik panti nugraha hingga bakmi rempoa. tiga ruas ini sebelumnya senantiasa berlobang, setelah dibeton terlihat agak lumayan. permasalahan yang masih tersisa di dibiarkan tetap menjadi masalah adalah pada tanjakan dan turunan ke dan dari jalan beton tersebut yang cukup terjal dan tidak ada tanda - tanda dibuat landai secara permanen. setiap kali mobil akan memasuki ruas jalan betin ini, setidaknya perlu memperlambat jalan dan meletakkan ban sedemikian rupa agar bagian bawah mobil tidak membentur muka jalan. di antara ketiga ruas ini, jalan tetap berlobang.

beberapa minggu belakangan ini, terlihat ada kegiatan perbaikan jalan, ruas jalan dari masjid Al Falah rempoa yang tidak jauh dari ujung tembok Sandratex ditinggikan dengan dibeton. pembetonan hingga minggu siang ini sudah sampai mulut pertigaan jalan Delima jaya. namun itupun baru di sisi barat. di satu sisi kami - warga - menyambut gembira atas upaya pemerintah daerah memperbaiki jalan rempoa raya ini. namun di pihak lain, kami sedih, geleng-geleng kepala, tidak ngerti apa yang dikehendaki atau yang dipikirkan oleh kontraktor yang memborong pembetonan jalan tersebut.

mengapa demikian? frekuensi lalu lintas jalan rempoa raya cukup padat, terutama di pagi, sore hingga malam, bahkan pada hari libur. jalan rempoa raya merupakan jalan penghubung dan atau jalan alternatif bagi kendaraan dari arah ciputat menuju kebayoran. selain itu di sepanjang jalan rempoa raya, veteran hingga tanah kusir sekarangini sudah banyak sekali komplek perumahan, yang semuanya menggunakan jalan raya rempoa untuk menuju jakarta dan atau daerah lain di luar rempoa. frekuensi lalu lintas yang padat ini rupanya tidak dimengerti atau setidaknya diantisipasi oleh pemborong pembetonan jalan. buktinya?

beberapa hari sebelum proyek di mulai, beberapa orang menaruh macadam (batu pecah) di pinggir hingga separuh badan jalan, tindakan tersebut tentu saja menyempitkan badan jalan dan menghambat arus lalu lintas dari dua arah. antrian panjang hinga satu kilometer setiap pagi menjadi pemandangan lazim, tanpa ada yang merasa bersalah. tidak lama setelah penimbunan macadam di pinggir dan badan jalan, mulailah petugas memasang cetakan beton dan meratakan batu-bat tersebut. praktis hanya separuh badan jalan yang dapat digunakan selama pengecoran.

masalah muncul ketika pengecorang jalan berhenti tepat di mulut pertigaan jalan delima raya. konstruksi jalan beton yang tebalnya hingga 20 centimeter dan tepat di mulut pertigaan membuat kendaraan dari jalan delima yang akan berbelok ke kanan atau kendaraan dari arah situ gintung yang akan belok kiri ke jalan delima tidak bisa keluar masuk lantaran perbedaan ketinggian badan jalan tidak dibuatkan penghubung atau pelandai jalan. selain itu kendaraan yang akan masuk atau keluar jaan delima juga mesti antri satu persatu dengan memasuki halaman parkir toko 69 yang terpaksa mencabut tiang pembatas agar halamannya dapat diliwati mobil.

sejak pembetonan berhenti dan setiap kali saya keluar masuk jalan delima selalau tanya di dalam benak muncul. "sampai kapan pembetonan ini akan dibuat selesai?, sampai ujung mana jalan beton ini akan berakhir? siapa yang merancang pekerjaan seperti ini? insinyurkah, atau hanya tukang yang tidak pernah sekolah sama sekali? jika insinyur kenapa bodoh benar? ya bodoh karena tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa jalan raya itu untuk kepentingan publik, bukan kepentingan pribadi. tujuannya membangun, namun dalam prosesnya menyengsarakan rakyat. lebih jauh lagi, kenapa pembangunannya berhenti, jalan, berhenti, jalan, on-off-on-off seperti nyala lampu lalu lintas.

sampai kapan model pembangunan jalan semacam ini akan tuntas? sampai kapan kami pembayar pajak akan "dirajakan" oleh pengelola uang rakyat? lebih jauh lagi saya sering membatin, bagaimana mau kompetitif? bagaimana mau maju? bagaimana mau mengalahkan negara - negara lain? bagaimana mau modern? bagaimana mau menguasai teknologi tinggi? lha wong memperbaiki jalan yang teknologinya rendah saja membuat sengsara rakyat.....

No comments:

Post a Comment