Saturday, June 30, 2007

Catatan Dari Temu Pakar Satelit Nasional

Selasa-Rabu, 26-27 Juni 2007, Departemen Luar Negeri (Deplu), bekerja sama dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) serta Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) menyelenggarakan workshop Temu Pakar Satelit Tingkat Nasional, dengan Thema "kemandirian Teknologi Satelit Dan Aplikasinya Serta Strategi Penetrasi Pasar Afrika".

Workshop dibuka oleh Menlu Hasan Wirayudan dan Keynote speech oleh Pak Basuki Yusuf Iskandar (Dirjen Postel) dan Pak Suwarto Hadienata (Deputy Bidang Teknologi Kedirgantaraan LAPAN). Workshop diikuti oleh 119 peserta dari berbagai instansi pemerintah, BUMN dan swasta. Para pembicara datang dari berbagai institusi yang beraktivitas di sektor yang terkait dengan penyelenggaraan layanan satelit termasuk dari Ditjen Bea Cukai, Departemen Perindustrian, Ditjen Postel, dan lain sebagainya.

Ada 2 tujuan utama dari workshop ini, pertama sebaqai persiapan menghadapi Afro-Asia Satellite Communication Cooperation Workshop yang akan diselenggarakan pada Oktober 2007, di mana Indonesia berperan sebagai Champion dan sekaligus host country; dan kedua sebagai wahana untuk identifikasi potensi dan kendala yang dimiliki sehubungan dengan keinginan untuk membangun Gugus Satelit Nusantara dan mengekspor expertise, skill, knolwedge dan experience di bidang persatelitan.

Dari 6 sessi, semua materi sangat menarik, hingga sampai saat akhir yang molor lebih dari 2 jam-pun (karena diskusinya seru) peserta masih penuh semangat, dan banyak yang sepakat bahwa masih perlu diskusi dan rencana aksi lebih detil, terukur, serta mengajak para pihak yang kemungkinan berkaitan dengan persatelitan.

Benang merah yang dapat saya sampaikan antara lain: peserta menyadari Indonesia dengan pengalaman satelit lebih dari 30 tahun, memiliki kemampuan dan syarat minimal bagi pengembangan industri manufaktur dan jasa terkait satelit. Dari sisi permintaan pun seluruh kebutuhan transponder satelit balum dapat dipenuhi oleh satelit milik Indonesia sehingga membuka peluang masuknya satelit asing.

Potensi dan pasar yang cukup besar ini ternyata belum dikonsolidasikan/disinergikan, sehingga status sebagai net importer pengguna satalit masih melekat pada Indonesia. Ketika ingin mengubah status menjadi exporter, termasuk menyediakan payanan peluncur satelit yang sedang dibangun di Biak, maka segera diketahui masih banyak kendala - dari yang sifatnya strategis hingga operasional - yang harus dibenahi. Identifikasi (mapping) industri terkait satelit perlu dilakukan, koordinasi segenap stakeholder dan dukungan pemimpin nasional yang kontinyu dan konsisten perlu segera diupayakan, penguatan technical skill dan know how agar dikerjakan, yang semua ini akan menjadi syarat cukup dan perlu sebelum Indonesia berubah status menjadi exporter satelit ke negara - negara Asia dan Afrika.

Dalam workshop tersebut hadir juga pakar dari BPPT, LAPAN, dan Perguruan Tinggi. Penggunaan satelit tidak hanya untuk telekomunikasi, namun juga untuk penyiaran, remote sensing, edukasi, riset, tracking, dan lain sebagainya. Di dalam workshop dibahas tidak saja penggunaan, namun juga kemajuan Indonesia dalam proses industri satelit yang telah dicapai dan ingin dikembangkan lebih lanjut.

LAPAN misalnya, menyampaikan berita gembira tentang keberhasilan membuat roket dan satelit non-GSO yang digunakan untuk riset (non-commercial satellite). Demikian pula dengan PT. Indonesia Air Launch System (ALS) mempresentasikan proyek yang sedang dikerjakan bekerja sama dengan Rusia, yakni peluncuran Satelit via pesawat terbang. Roket-nya bikinan Rusia, satelitnya buatan mana saja termasuk ALS sendiri yang akan juga berperan menjadi Satellite System Integrator. Jika tidak ada halangan besar, ALS akan meluncurkan satelit pertama kali pada tahun 2010.

Itu tadi dua contoh progress yang berhasil diraih Indonesia dalam bidang satelit, khususnya untuk space equipment. Bagaimana dengan ground equipment? Secara umum (belum detil) di dalam workshop juga dilakukan pemetaan, siapa saja yang sudah berhasil atau sedang berkegiatan di bidang satellite ground equipment (antenna, modem, power supply, softswitch, RFA, dll.). Ditemukanlah beberapa perusahaan seperti: LEN, INTI, Hariff, Elektrindo Nusantara, Polareka, Trans Komunikasi Data, dan lain sebagainya.

Apakah sudah mewakili keseluruhan? Tidak juga, karena selain space & ground equipment, masih ada lagi industri terkait satelit, antara lain telekomunikasi, penyiaran, lainnya (di luar telco & broadcasting). Jika hanya dilihat sekilas, maka yang terlihat dominan adalah penggunaan satelit untuk trunking (telekomunikasi), namun sejatinya, trend bisnis layanan satelit yang menjanjikan ada pada broadcasting (termasuk pay-tv), data communication (termasuk Internet), dan lainnya (pendidikan, riset, dll).

Meski Indonesia sudah 31 tahun memanfaatkan satelit (sebagai negara ketiga setelah USA dan Kanada yang memanfaatkan satelit untuk backbone telekomunikasi nasional), namun kemajuan industri dan layanan satelit untuk berbagai keperluan memang lebih lambat jika dibandingkan dengan teknologi telekomunikasi lainnya seperti terrestrial dan fibre optic (pada jaringan transmisi) dan atau selullar (GSM, CDMA, 3G; pada sarana karingan akses), atau IP (Internet) pada level aplikasi dan content.

Dari sisi bisnis-pun para operator telekomunikasi mengakui bahwa kontribusi pendapatan dari layanan satelit hanya 5 - 7% dari total annual revenue. Jika sedemikian kecil, mengapa operator telekomunikasi dan para stakeholder industri satelit masih tetap ingin berjuang di lini bisnis ini?

Jawabnya, antara lain: menambah devisa, mengurangi ketergantungan dari produk asing, meningkatkan citra bangsa, menghimpun tenaga intelektual di bidang satelit yang (ternyata) jumlahnya lumayan banyak, meraih pasar Afrika yang masih terbuka luas, meningkatkan penetrasi telepon dalam negeri khususnya di wilayah terpencil dan perbatasan, sebagai backup ketika jaringan kabel dan atau terestrial tidak dapat berfungsi, dan masih banyak lagi.

Jadi, worskhop ini sejatinya merupakan salah satu upaya untuk merangkai berbagai aksi yang sudah banyak dilakukan namun belum terintegrasi (piecemeals) dan atau terkoodinasi ke dalam strategi pengembangan industri satelit nasional. Kami semua optimis, meski menyadari masih banyak kendala yang akan dihadapi.

Saya menduga, kelak tidak ada satupun warga Indonesia yang tidak bangga ketika ada Satelit komersial yang berhasil dibangun dan diluncurkan oleh anak-anak Indonesia.

1 comment: