Wednesday, August 29, 2007

Inilah Profile Kedua Orang Tuaku

Ayahku bernama Mas Soetoro, kelahiran Palumbungan Desember 1926. Palumbungan adalah sebuah dusun di wilayah Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Sekarang sudah pensiun dari pegawai negeri di lingukngan Departemen Tenaga Kerja. Mas Toro demikian orang-orang di dusun Palumbungan memanggilnya, merupakan cucu laki-laki pertama dari seorang Kepala Desa. Ayahnya seorang Kepala Kantor Kawedanan. Ayah dan Ibu Mas Toro merupakan Saudara sepupu, dapat dipahami karena pada waktu itu, tahun 1920 ketika kakek nenek kami menikah lingkungan desa masih tergolong terpencil dari wilayah kota. Pak Toro 7 bersaudara, Tertua perempuan, kedua Pak, dan ada tiga adik perempuan serta dua adik laki-laki. Formalnya, Pak Toro hanya sekolah di Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA). Ketika revolusi ikut bergabung dalam Brigade XVII Tentara Pelajar, sehingga menerima beberapa medali Gerakan Operasi Militer (GOM) dan Bintang Gerilya, serta Satya Lencana yang semuanya tidak pernah dipajang, cukup disimpan rapi di laci meja kerjanya.



Ibuku Chabibah, kelahiran Banjarharjo, Brebes Juli 1935. Kakek (atau ayah dari Ibuku) bernama Mas Mangun Hudoyo, sinder atau mantri kebun di Pabrik Gula Kersana, Ketangungan Brebes. Keturunan ningrat Bupati Brebes entah yang ke berapa. Sedangkan Nenek (Ibu dari Ibuku) seorang wanita perkasa yang melahirkan anak sampai 10 kali, dua pertama meninggal, sehingga yang hidup sampai renta tinggal delapan termasuk Ibuku. Dari delapan anak, sekarang tinggal Ibuku seorang yang masih hidup. Moyang nenekku berasal dari desa Peninis-Karangmaja di wilayah Kecamatan Pengadegan Kabupatem Purbalingga. Sewaktu muda Kakek buyu (ayah neneku) pergi merantau ke Saudi meninggalkan warisan yang luasnya separo desa (ayahnya seorang Demang) dan sekembalinya di tanah jawa tinggal di Banjarharjo menjadi Kyai. Pendidikan formal Ibuku hanya lulus SMP yang konon ditempuh hampir delapan tahun karena harus mengungsi dari satu kota ke kota lain ketika zaman revolusi dulu. Kakek dan nenekku harus meninggalkan Banjarharjo dan meninggalkan segala harta karena tidak mau kerja sama dengan penjajah belanda, selain karena tiga anak lelakinya menjadi tentara republik yang bergerilya melawan belanda. Cerita nenekku, kemana saya mereka pindah dari kota ke kota, Ibuku selalu membawa buku sekolahnya. Itulah yang saya kagum dari Ibuku, meski sekolahnya hanya sampai SMP tetapi pengetahuannya luas, sampai usia di atas 70 sekarang ini hoby-nya baca koran. Ibuku pensiun sebagai pegawai negeri, petugas lapangan keluarga berencana.



satu hal yang saya teladani dari Ayahku adalah sikapnya yang tenang ketika menghadapi masalah apapun. Bahkan ketika kami masih kecil, di zaman gestapu, ayah saya masih berbaik hati kepada rekan dekat sekantor yang ternyata pimpinan partai komunis dan menjadikan Ayahku yang waktu itu anggota DPRD dan Ketua Cabang Partai Nasional Indonesia sebagai sasaran untuk dihabisi (oleh pki). Takdir menyelamatkan Ayahku dari muslihat dan jebakan oorang-oang yang ingin mencelakakannya. Selain sikapnya yang tenang, Ayahku juga disiplin dan jujur. Sampai sekarang kalau belum waktunya makan, tidak akan makan sesuatupun. Kejujuran Ayahku saya lihat ketika diberi amanat sebagai pemimpin proyek pembangunan gedung, pemborong menawari komisi atau uang kolusi agar Ayah saya menyetujui perubahan bestek, Ayahku menolak dan hanya bersedia menyetujui perubahan bestek bila dilakukan secara terbuka, pemborong diminta menulis surat resmi.

Dalam perjalanan waktu Ayahku lebih banyak berperan sebagai guru pertanian. banyak muridnya tersebar di seluruh Indonesia. ada orang bule, malah pernah muridnya Insinyur Pertanian. Ikhwal sebagai guru, ternyata membawa berkah bagi anak-anaknya. kakak saya yang tinggal di Sumatra, bertemu seseorang yang setelah basa-basi sana sini, eh ternyata pernah sekolah di sekolah Ayahku, dan masih ingat benar bagaimana beliau mengajar dan yang diajarkan. tahun 1988, sesudah pensiun beberapa tahun, atas kemauannya sendiri, Ayahku mendatangi dokter mata untuk operasi Katarak (penyakit keturunan, degeneratif, konon akibat pernikahan saudra dekat). Pasca operasi, beliau mengatakan sudah mulai bisa melihat bayang-bayang, makanya berani sholat, meski sebenarnya dianjurkan untuk tidak jongkok dan ruku'. Karena kuasa Allah semata, yang semula sudah mampu melihat bayang-bayang kembali gelap, sehingga kedua mata Ayahku menjadi buta total. Kami bawa ke jakarta untuk dioperasi lagi di RS Mata Aini dengan operasi Laser, namun tetap tida dapat tertolong. yang membuat kami, Ibu dan anak-anak tidak risau, adalah karena Ayahku dapat menerima kenyataan, tidak pernah ada sekalipun kata penyesalan dari mulutnya. terlihat Ayahku ikhlas menerima kenyataan ini.

Sekarang Ayah-Ibuku tinggal berdua saja di rumah kami yang cukup besar di kampung. Ayahku buta, Ibuku sering sakit-sakitan. Tinggal satu saja cita-cita mereka yang Insya Allah dapat dikabulkan Allah Yang Maha Kuasa, mereka ingin menunaikan kewajiban sebagai muslim memenuhi panggilan Allah pergi berhaji. setelah rejeki mencukupi, mendaftar berenam (bersama kakan dan istrinya serta istriku) agar kami berempat dapat mendampingi kedua orang tua yang telah renta, eh masih harus menunggu dan bersabar, karena dari pengumuman Depag ternyata hanya kakakku saja yang sudah masuk ke kuota. Doakan ya agar kami dapat mendampingi orang tuaku berhaji tahun 2007 ini.

3 comments:

  1. Kok Bapak Ibu Tidak Dibawa dan diajak tinggal bersama saja... Lebih mudah Mengawasi dan merawat sebagai tanda bakti anak kepada orang tua..

    ReplyDelete
  2. wah salut banget baca tulisan Mas Wig yang satu ini, Subhanallah salut ngebayangin gimana perjuangan, keikhlasan & semangat hidup para leluhur Mas Wig, ciayo!

    Well, aku turut berdoa semoga niat baik kalian u/ pergi ke tanah suci dapat segera terlaksana dan bisa cepet masuk quota, amien!

    b. rgds,
    //iiE

    ReplyDelete
  3. Pak Wig, saya perkenalkan diri saya terlebih dahulu. Nama saya Nurhajati, sedang berusaha menulis, jadi belum banyak tulisan saya. Minat saya di bidang SDM.
    Saya ikut berdoa agar pak Wig beserta orang tua segera dapat menunaikan ibadah haji.
    Saya sendiri sedang menguatkan hati agar bisa berangkat juga...maunya tahun depan InsyaAllah.

    ReplyDelete