Wednesday, August 29, 2007

Sensor Terhadap Materi Presentasi

Saya yakin di antara Anda, ada banyak yang sering diundang untuk menjadi pembicara di seminar, pelatihan, workshop, dan berbagai acara publik. Pernahkah Anda dalam sebuah seminar bisnis beberapa saat menjelang acara dimulai didekati oleh panitia, dan menanyakan isi materi yang akan dipresentasikan?. Tidak hanya menanyakan, tetapi juga minta satu atau beberapa slide power point untuk dihapus dan tidak dipresentasikan?

Di zaman Orba dulu, kejadian semacam ini mungkin seringkali terjadi. Namun biasanya bila materinya terkait dengan politik yang dianggap berseberangan dengan kepentingan penguasa pada waktu itu. Nah, di zaman sekarang, hal tersebut terjadi, bukan oleh pejabat pemerintah, tetapi oleh "bawahan" pengusaha yang mengundang kita untuk berbicara. Kasus itu terjadi pada diri saya senin siang kemaren.

saya datang di lokasi acara setengah jam sebelum dimulai. petugas EO kebetulan mengenali dan langsung membawa saya ke seorang eksekutif muda -kira-kira umurnya baru 28-an, berjas dasi necis, rambut klimis, menyalami saya, dan tanpa basa-basi dia langsung bilang, "silakan Pak kalau mau rehearsal", saya jawab "tidak perlu Pak'. kemudian anak muda ini berkata lagi "Bapak tidak bawa skrip, sudah siap untuk tampil Pak?" mendengar pertanyaan konyol ini saya masih jawab entang "dalang itu latihannya tidak perlu disuruh Pak", sambil ngeloyor pergi cari tempat duduk, di antara beberapa peserta yang sudah mulai berdatangan. Rupanya anak muda ini tidak tahu sedang menghadapi siapa. Belum lama duduk si dia ini mendekati saya lagi, menanyakan apa yang akan disampaikan, saya menjawab enteng sambil senyum "wah ndak tahu Pak, kita lihat saja nanti, Anda khan sudah tahu judulnya, dan sudah memegang materinya". lalu dia menjejeri saya sambil membuka notebook-nya, dan terbukalah power point berisi materi yang akan saya bawakan. Dia bertanya, mengapa saya membuat presentasi seperti ini, menurutnya ada dua slide yang dia minta saya untuk tidak tayangkan.

mendengar permintaan si anak muda ini, saya tersinggung berat, muka saya tegang. langsung saya semprot dengan suara agak keras yang membuat sahabat saya dan anaknya (pemilik perusahaan, pengundang) mendekati kami. Saya bilang "kalau Anda minta saya menghapus dua slide ini, saya pulang. Emang Anda pikir saya siapa?" Mendengar perkataan saya dia kaget, lalu bilang "bukan begitu Pak, tetapi saya minta penjelasan mengapa Bapak buat slide seperti ini?" saya sahut "itu bukan urusan Anda, jika sabar, anda akan tahu dari presentasi saya nanti". eh dia masih nyahut lagi "soalnya di sini Bapak memuat informasi tentang kompetitor kami" saya potong "emang kenapa? Anda tahu ndak, saya diundang ke sini untuk berbicara, maka suka-suka saya untuk berbicara apa saja. Belajarlah dari apa yang nanti saya sampaikan. Jika anda tidak suka dengan apa yang akan saya bicarakan, tidak masalah, saya pulang." sambil siap untuk berdiri. namun gerakan saya terhenti ketika sahabat saya dengan halus dan sopan sekali, merangkul saya, minta maaf, mohon saya untuk tetap bersedia berbicara, dan saya lihat matanya memerintahkan si muda ini untuk menjauh dari saya. Tidak lama kemudian mendekatlah orang lain yang lebih senior (dari kartu namanya, jabatannya PresDir di salah satu anak perusahaan), dengan gestur yang sopan, ramah, mengajak saya berbicara,ngalor-ngidul, sampai akhirnya kami berempat (saya dan dua pembicara dari Jepang dan Hongkong serta Pak PresDir) diminta tampil ke panggung. Rupanya si Pak PresDir ini bertindak selaku moderator acara siang itu.

siang itu saya mendapat pelajaran baru. seorang sahabat (pemilik perusahaan ternama) mengundang saya untuk memberikan presentasi, meramaikan acara bisnisnya. menghormati sahabat, maka saya siapkan materi presentasi yang memberi tantangan bagi para pegawai maupun para hadirin, menyajikan potret dunia bisnis di luar sana, persaingan yang harus dihadapi, prospek yang dapat diraih, dan berbagai upaya yang perlu dilakukan guna mencapai kemenangan. Salah seorang manajer (direktur anak perusahaan) yang tidak tahu hubungan saya dengan boss-nya, mencoba mencari poin (dari sang boss) dengan seolah-olah telah menjadi "pembimbing disertasi" berusaha mensterilkan informasi yang dianggap merugikan perusahaan atau tidak layak bagi hadirin. Rupanya sang eksekutif muda ini, yang dari gaya bicaranya saya duga lulusan luar negeri, baru mampu melihat apa yang tersurat, belum memiliki kearifan memahami makna dari sebuah simbol, makna di balik deretan kata. sehingga langsung alergi ketika melihat lambang-lambang pesaing. Dipikirnya, mengapa saya membawa harimau, padahal yang mereka inginkan kambing.

sang sahabat, yang saya tahu belum membaca sama sekali materi presentasi saya (karena tergolong alergi komputer, dan materi baru diterima menjelang saya tiba di lokasi), dengan gayanya yang kalem, cukup dengan mata memerintahkan anak buahnya menjauh dari saya dan dengan mata pula saya lihat dia minta PresDir-nya menemani saya. Menjelang pulang, sahabat ini mengucapkan terima kasih, dengan senyum tulus dikatakannya "terima kasih kami sudah dibekali sesuatu yang sangat berharga" saya cuma senyum-senyum dan bergumam "sama-sama Pak, membagi pengetahuan malah menambah pintar dan kaya, Pak", sementara sang manajer muda saya lihat dari jauh melihat kami bersalaman. Sebelum pergi, saya lambaikan tangan padanya, terlihat tangannya juga melambai.

No comments:

Post a Comment