Sunday, January 04, 2009

Waktu Terus Bergerak

kertas bertumpuk di meja, almari dan kolong langit-langit; menanti dinikmati, halaman per halaman, digerayangi mata
dicerna, menajamkan lidah mengubah jelaga di gigi tumpul.

di lantai berserak plastik, tas plastik dan kardus plastik, hatta selalu bertambah hari demi hari; tiada menggunung kaya harta, ilmupun diragukan. benarkah isi kertas sudah beralih ke benak botak. ketika si bijak bertanya, entah kemana lidah bersuara.

tugas menanti, di kanan dan kiri, menggayut sepeti sulur beringin enggan tumbang, semakin hari meruyak tak tertahankan. menjulur ke ruang - ruang pribadi, mengurangi kenikmatan duniawi. tak kuasa menolak, walau hati menjerit, arah mana yang akan ditempuh.

masa berlalu, tahun genap beranjak, tahun gasal mulai ditapaki; berita koran membiru di hati, gambar tivi membara, menyala di ujung dunia sana. akankah manusia terus saling bunuh demi sejengkal tanah.

di kota ini dan kota - kota lain di negeri si pulan, panji-panji mulai berkibar; wajah ramah tersenyum, terpaku di pohon pinggir jalan menawarkan uang. entah apa yang akan dilakukannya bila terpilih.

masihkah ia jahat kepada pembatu - pembantunya, atau akankah hilang tabiatnya mengurangi timbangan kala berdagang,
benarkah dia mewakili rakyat atau sekedar memperjuangkan kepentingannya sendiri saja.

nun di dunia maya, si pandir egois mengaku cendekia nir-bijaksana. dituduhnya si terhina, tersiksa, tercerabut akar kehidupannya sebagai penyebab onar. diputar-balikkanlah fakta nyata nan gamblang yang si pandir tak pernah melihatnya.

kembali ke dunia kecil, halaman kalender sudah kusam walau sehari lalu baru terbilang; inilah tanda alam, tak peduli baru sesaat lalu, yang telah lewat tak mungkin kembali. kertas bertulis tak kan kembali putih walau direndam air kembang setaman.

ketika dunia kecil berdialog dengan dunia besar, kesadaran atau kebenarankah yang ada atau hanya ilusi seiring waktu berlalu, laksana kertas hanya bergerak diam ketika sinar laser menyemprot tinta. aku atau Engkau yang bicara, kasih atau nafsu yang bergolak, jawabnya setia menunggu di ujung jalan kehidupan.

Rempoa, Minggu 4 Januari 2009

1 comment:

  1. duh, saia ga ngerti nich...

    bis bukan nak sastra filsafat..

    salam kenal pak...

    ReplyDelete