Thursday, January 01, 2009

Wawancara dengan Winoto Budi soal Tarif Telekomunikasi

T: (Tanya)
J: (Jawab)

T: Sekarang mulai ada resistensi dari masyarakat dan makin tidak percaya, kalau tarif yang diberlakukan operator benar-benar murah tapi tetap mahal seperti dulu. Pak mas wig melihatnya seperti apa? apakah sehat bagi industri telekomunikasi di Indonesia?

J: Soal mahal-murah itu persepsi yang setiap orang dapat berbeda dari orang lainnya. Walau semakin banyak orang yang punya persepsi bahwa tarif telekomunikasi masih/semakin mahal (atau murah), persepsi dapat diterima sebagai suatu fakta bila dikumpulkan dengan mengikuti metoda pengumpulan data yang dilakukan sesuai dengan kaidah ilmiah. Bila bertindak hanya berdasarkan apa kata orang (hearsay), saya khawatir kondisinya bukan semakin baik, namun dapat semakin buruk. Jika sudah tambah buruk, bukan hanya operator saja yang merugi, namun masyarakat pun akan merugi karena kehilangan kenikmatan yang sudah dialami.

Terlepas dari benar – tidaknya persepsi masyarakat, saya kira operator perlu mawas diri. Pertama, karena kompeitisi. Jika masih ada operator yang tidak efisien (tercermin dari mahalnya jasa yang ditawarkan), atau yang suka “mengurangi timbangan” curang dalam penghitungan pulsa, maka lambat laun perusahaan semacam ini akan ditinggalkan oleh pelanggan.

T: Banyak iklan operator yang mengklaim murah, tanpa menyantumkan lembaga independen sebagai sumber penelitian apakah ini sehat?

J: Saya tidak tahu apa atau siapa yang Anda maksud dengan lembaga independen. Saya ragu apakah ada lembaga risetyang benar – benar independen? (dalam pengertian tidak dipengaruhi atau terpengaruh oleh kesediaan pemesan (operator) untuk membayar hasil riset dengan harga tinggi.

Dalam nada canda, saya sering sampaikan kepada teman-teman operator telekomunikasi bahwa mereka persis perusahaan kecap, yang selalu mengklaim sebagai nomor satu. Apa jawab mereka? Lha memang menurut kami, kami ini nomor satu, kalau menurut orang lain kami nomor sekian yang itu hak mereka untuk mengatakan apa saja, hak kami adalah mengatakan kami nomr satu, atau kami paling murah.

Akhirnya saya menyadari bahwa iklan (termasuk yang memuat tarif) memang bukan jenis hasil karya scientific, yang secara metrik harus terukur. Parameter kontrolnya hanya etika saja. Kalau yang masih memegang teguh etika tentu kalimatnya terjaga. Persoalannya, etika itu juga masalah persepsi yang bagi banyak orang berbeda satu dengan lainnya. Walhasil, kondisi keshatan atau keburukan industri telekomunikasi sebaiknya tidak hanya diukur dari iklan tarif.

T: Iklan operator selalu menyembunyikan Syarat dan Ketentuan Berlaku, bukankah kurang etis?

J: Menurut hemat saya justru pencantuman kata “syarat dan ketentuan berlaku” menjadikan sebuah iklan memenuhi etika periklanan. Mari kita lihat segi posistifnya, iklan tersebut mendorong pembaca, pelanggan untuk mencari informasi tambahan sebelum membeli atau mengkonsumsi produk yang diiklankan. Dan apabila syarat dan ketentuan yang ditawarkan tidak sesuai dengan acuan atau selera calon pembeli, maka tidak ada paksaan bagi calon pembeli untuk membeki produk dimaksud.

Bagi operator kalimat “syarat dan ketentuan berlaku” juga menjadi exit clause ketika ada complain dari pelanggan/pembeli yang merasa dirugikan. Kalaupun ada dispute, operator dengan santai punya hak untuk berkata “kan saya sudah bilang, ada syarat dan ketentuannya, makanya baca dulu informasinya sebelum membeli”.

T: Ada operator yang mengeluh, dengan tekanan agar tarif makin murah, upaya perluasan cakupan menjadi terganggu, dan malas membuka pasar yang potensinya kecil, serta konsentrasi di pasar yang menguntungkan saja. Apakah ini mungkin terjadi?

J: Ini pasti keluhan operator kecil, atau operator yang baru masuk ketika pasar sudah rame, kompetisi sudah marak. Bagi operator besar atau yang masuk di awal – awal kompetisi, isu semacam ini tidak dirasakan.*****

No comments:

Post a Comment