Monday, September 20, 2010

Wawancara Rudi Kuswanto, Human Capital

1. Bagaimana Bapak melihat secara global perjalanan industri telko nasional hingga pencapaiannya selama ini setelah berjalan selama 14 tahun lebih.

• Secara umum ditinjau dari perspektif ekonomi indutri, telekomunikasi nasional telah memasuki tahap mendekati kedewasaan. Pasar yang semula monopoli, dan kemudian berubah menjadi oligopoli, sekarang sudah kompetitif. Artinya, semakin banyak pelaku, kita saksikan sekarang setidaknya ada 12 perusahaan penyedia jasa telekomunikasi, 8 di antaranya menyediakan layanan telepon bergerak selular. Dan puluhan perusahaan penyedia jasa akses Internet, layanan telekomunikasi jaringan tertutup, jasa nilai tambah telekomunikasi.

• Dari perspektif regulasi, penyelenggaraan telekomunikasi nasional telah mulai mendekati kondisi yang saya sebut sebagai mutual-regulated industry, artinya, semua pihak yang terlibat dalam telekomunikasi; Pemerintah, Regulator, Operator, dan pengguna telekomunikasi; sudah mampu meningkatkan kualitas hubungan timbal balik (relationship), saling menghormati.

• Kinerja sektor telekomunikasi juga mampu menunjukkan sebagai sektor yang terus tumbuh dalam dekade terakhir ini, bahkan ketika Indonesia dilanda krisis keuangan sepuluh tahun lalu, telekomunikasi merupakan satu-satunya sektor yang terus tumbuh dan memberi peningkatan kontribusi terhadap GDP nasional.

2. Dari sisi pencapaian jumlah pelanggan, coverage, tarif dan kualitas, bagaimana Bapak menilai kinerja operator kita.

• Signifikan! Barangkali itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pencapaian atau kinerja sektor telekomunikasi Indonesia selama sepuluh tahun terakhir.

• Sepuluh tahun lalau jumlah pengguna telekomunikasi tidak lebih dari 1% populasi, bandingkan kondisi sekarang, statistik akhir April 2009 sudah mendekati 90 juta pengguna. Coverage atau wilayah liputan hanay di kota – kota besar di pulau Jawa dan beberapa kota besar di luar Jawa, sekarang hampir semua kecamatan di pulau Jawa sudah tersambung layanan telekomunikasi. Di pulau – pulau luar Jawa-pun demikian, wilayah yang terlayani jaringan telekomunikasi semakin luas. Tarif, jika ditinjau dari nominal memang terlihat meningkat, angkanya lebih besar dari sepuluh tahun lalu. Namun benefit yang diterima pengguna jauh lebih besar, sehingga peningkatan tarif nominal yang diikuti dengan peningkatan manfaat dan kualitas layanan sama artinya dengan peningkatan Value atau penurunan ongkos telekomunikasi.

3. Operator kita.. kalau tidak salah berjumlah 11, sementara di negara-negara lain biasanya 3-4 operator saja, fenomena apakah ini? Apakah perang tarif yang terjadi selama ini cukup sehat bagi operator atau malah justru membahayakan bagi para operator?

• Pembandingan jumlah operator di suatu negara dengan negara lain, tidak selalu tepat. Perbedaan kondisi sosial ekonomi, politik, demogrrafi dan geografi dapat dirujuk sebagai alasan mengapa pembandingan tidak selalu tepat.

• Saya melihat jumlah operator telekomunikasi yang mencapai 12 perusahaan, dan kemungkinan akan bertambah lagi, setidaknya mengindikasikan beberapa hal. Pertama, dengan luas geografi dan penduduk lebih dari 200 juta yang tersebar di Nusantara Indonesia dipandang sebagai pasar telekomunikasi yang tidak cukup hanya dilayani oleh 1 atau 2 operator. Kedua, kondisi pertama tersebut, mendorong investor untuk menanamkan modal untuk membangun jaringan dan layanan telekomunikasi.. Ketiga, Pemerintah sebagai pemegang kendali kebijakan dan regulasi, belum memiliki kebijakan atau setidaknya memutuskan berapa jumlah ideal operator telekomunikasi yang layak bagi Indonesia. Ketiadaan kebijakan ini masih dapat dipahami, mengingat tiadanya model ideal bagi suatu negara. Kondisi bagus di suatu negara, belum tentu bagus pula diterapkan di negara lain. Keempat, tidak mudah bagi Pemerintah untuk mencabut izin-izin yang sudah diterbitkan walapun pemegang izin tidak mampu memenuhi komitmen yang tertuang dalam dokumen perizinan. Kondisi seperti ini menjadikan operator yang tidak mampu mengembangkan wilayah jaringan dan layanan tetap saja eksis.

• Dua tahun lalu operator telekomunikasi, khususnya operator telepon selular, gencar memainkan harga sebagai alat pesaingan. Akibatnya tahun 2008 mereka semau sudah mulai merasakan buah persaingan harga yang dijadikan strategi bisnis 2 tahun sebelumnya. Kinerja keuangan tahun 2008 hampir semua operator mengalami penurunan. Sekarang mereka baru menyadari persaingan harga tidak baik untuk industri, dan akhirnya tidak baik pula untuk pengguna /pelanggan.

4. Dibandingkan dengan pertumbuhan bisnis telko di indonesia dengan negara-negara lain di asia dan asia tenggara sendiri, bagaimana posisi Indonesia.

• Jika melihatnya dari persentase sambungan telepon tetap per 100 penduduk (teledensitas, menurut pengertian ITU) maka teledensitas Indonesia tergolong rendah, sekarang ini mungkin masih 4% artinya untuk 100 penduduk hanya tersedia 4 sambungan telepon tetap. Angka ini masih di bawah Malaysia, Philipne, Singapore, dan Thailand.

• Namun demikian, jika ditambahkan dengan telepon nirkabel (wireless) baik untuk layanan bergerak (mobile) maupun telepon tetap nirkabel (Fixed Wireless Access / FWA), nominal pengguna telepon di Indonesia sudah melebih penduduk hampir semua negara angota ASEAN.

• Jadi kalau bicara soal posisi Indonesia, itu sangat relatif, tergantung indikator atau parameter yang akan digunakan. Bagi saya, mau dilihat dari parameter apa saja silakan, yang penting semakin banyak dan semakin menyebar masyarakat warga Indonesia yang dapat menikmati layanan telekomunikasi.

5. Bagaimana sebenarnya potensi operator Indonesia untuk bisa berkiprah di kancang internasional?

• Mengenai hal ini ada dua arus pemikiran. Pertama yang lebih suka melihat ke dalam (inward looking), mereka yang lebih suka melihat ke dalam adalah mereka yang berpikir bahawa pasar Indonesia sedemikian besar, ngapain melayani negara lain, lha melayani negeri sendiri saja belum mampu secara penuh. Kedua, mereka yang melihat SDM telekomunikasi Indonesia sebenarnya sudah mumpuni dan mampu bersaing dengan SDM telekomunikasi dari negara – negara lain, bahkan dari negara maju sekalipun, dan dengan kemampuan SDM ini, operator telekomunikasi dapat bermain di aras internasional, namun terhambat oleh belum adanya kebijakan Pemerintah atau strategi umum perusahaan untuk masuk ke pasar Internasional.

• Sudah hampri 2 tahun PT. Telkom, mulai masuk ke pasar internasional. Telkom membuka anak perusahaan di Singapore untuk mananguk bisnis dari negara lain. Selain itu bisnis dengan negara – negara Afrika pun keliatannya sudah mulai dilaksanakan. Jauh sebelum itu, beberapa pelaku bisnis Indonesia menanamkan modal di Kamboja, membuka bisnis layanan telekomunikasi. Namun kabarnya, sekarang sudah tidak beroperasi lagi.

6. Lebih jauh bicara tentang SDM di industri telko, bagaimana Bapak melihat SDM di industri ini, apakah kebutuhan pasar sudah terpenuhi semua, bagaimana peran para expatriat dan SDM lokal sendiri.

• Seperti saya jeaskan di atas, SDM telekomunikasi di Indonesia sudah mahir. Bahkan banyak yang sudah masuk ke jaringan expert internasional. Engineer teekomunikasi Indonesia tidak hanya bekerja di Indonesia, namun banyak yang bekerja keliling dunia, harus bersedai sewaktu-waktu dipanggil untuk melaksanakan tugas di negara lain.

• Kebutuhan pasar tentu saja belum terpenuhi semua, hal ini karena, banyak juga kekosongan jabatan karena ditinggal pensiun, atau karena adanya teknologi baru yang membutuhkan personalia baru.

• Expat di operator telekomunikasi pada umumnya hanya mereka yang duduk di level eksekutif. Di level Vice Presiden ke bawah sangat jarang, kalaupun ada biasanya untuk keahlian yang sangat spesifik.

• Expat di perusahaan vendor telekomunikasi (misaonya Huawei) masih banyak sekali. Ini menarik, di vendor telekomunikasi Eropa dan Amerika, pada umumnya banyak mempekerjakan orang Indonesia, bahkan sampai level eksekutif. Namun vendor – vendor China lebih suka mendatangkan enggineer dari negeri mereka, jumlahnya banyak sekali. Padahal untuk posisi engineer, sebanarnya orang Indonesia sudah banyak yang mampu menambil alih. Mungkin karena tenaga kerja di China berlebihan, ya? Saya agak heran mengapa Pemerintah membiarkan fenomena ini.

7. Bagaimana kreativitas para operator, dan apakah dalam kerangka mendidik dan mencerdaskan pelanggan dan masyarakat Telko pada umumnya?

• Kreatifitas operator sangat bagus. Lihat saja, pesan – pesan iklannya, produk – produk yang ditawarkan, event-event promosi yang digelar, kerja sama dengan berbagai pihak yang dijalin, dan lain sebagainya, yang semuanya itu menunjukkan bagaimanan operator telekomunikasi ingin dekat dan disukai pelanggan.

• Aktivitas yang mendidik masyarakat? Tentu saja. Namun sebaiknya kita tidak melihat mendidik dalam pengertian konvensional, di ruang kelas, tetapi mendidik dalam pengertian membuat orang menjadi berbeda dari sebelumnya. Menjadi pintar memilih dari sebelumnya yang tidak ada pilihan lain; menjadi pintar menimbang, mana iklan yang bohong, mana iklan yang baik dan jujur; menjadi pelanggan yang sadar ekonomi ketika mampu membedakan mana layanan yang murah beneran dan murah hanya diiklan saja; dan masih banyak lagi.

• Artinya, operator dan layanan telekomunikasi, disadari atau tidak teleh mengubah masyarakat Indonesia, baik pada kebiasaan berkomunikasi, gaya hidup, kecerdasan sosial, dan mendekatkan warga Indoneaia dengan warga dunia lainnya.

8. Lantas bagaimana pula masih maraknya aksi bajak-membajak SDM di posisi kunci dari satu operator ke operator lain?

• Bajak membajak SDM di sektor telekomunikasi relatif tidak banyak, tidak sehebih di sektor perbankan atau sektor elite lainnya. Malah sudah ada indikasi masuknay orang-orang non-telekomunikasi ke perusahaan telekomunikasi, seperti ketika Pak Arwin Rasyid masuk ke Telkom. Dan belum lama ini Pak Harry ditunjuk sebagai Dirut Indosat. Pak Arwin akhirnya terlempar dari Telkom, kita tunggu apakah Pak Harry berhasil diterima oleh warga Indosat.

• Pernah terjadi perpindahan pegawai dari suatu operator ke operator yang baru berdiri. Hal ini wajar karena SDM telekomunikasi yang mumpuni tidak tersedia di pasar tenaga kerja, hampir semuanya sudah terserap di industri, sementara jika merekrut fesh graduate, mungkin belum mampu mengoperasikan jaringan dalam tempo singkat. Maka jalan pintas diambil dengan membujuk beberapa pegawai dari perusahaan lain untuk pindah.

• Jadi heboh bajak-membajak SDM biasanya marak ketika ada operator baru yang akan mulai beroperasi. Sesudah itu keadaan tenang kembali.

No comments:

Post a Comment