Wednesday, October 18, 2006

Build Our Tolerance Over Liberty (BOTOL)

Mari kita bersama – sama mendukung BOTOL = Build Our Tolerance Over Liberty

Jika Mas HN menggunakan BOTOL untuk menyingkat dua kata Bodoh dan Tolol, istilah yang sama dapat saya gunakan untuk menyingkat seruan “Build Our Tolerance Over Liberty, yang menurut saya dapat juga menjadi teladan dalam ikut menyayangi dan membangun Indonesia yang bermartabat.

Durkheim yang pemikir terkenal itu, mengatakan kurang lebih “setiap individu memiliki kebebasan, namun tidak ada kebebasan yang mutlak”. Jadi, ketika individu dalam keadaan sendiripun dia tidak dapat mengekspresikan kehendaknya (will) sebebas-bebasnya. Mengapa? Jawabnya, karena dalam kesendirian selalu ada kepentingan pihak lain yang menyertainya. Misal, saya sedang berada sendirian di puncak gunung Merbabu, lalu saya inging bebas sebebasnya. Telanjang bulat di siang bolong? Mungkin masih bisa jika siap kedinginan, dan ini (telanjang) belum merugikan orang lain. Tetapi ketika saya ingin membakar rumput atau bunga Edelweys? Atau buang kotoran seenaknya? Atau babat – babat pohon sesuka saya? Hal terakhir ini bila saya lakukan mungkin akan berdampak negatif bagi orang lain (negative externalities). Coba Anda bayangkan, bunga Edelwys yang indah itu tiba – tiba habis karena saya bakar, orang lain kehilangan kesempatan untuk menikmatinya. Atau karena buang kotoran semau saya, lingkungan menjadi tercemar, orang lain yang hendak berkunjung ke puncak Merbabu menjadi tergangu karena bau kotoran saya, belum lagi jika kotoran itu menyebarkan penyakit, dan seterusnya.

Ketika individu yang bebas ini saling berkumpul, maka terjadi agregat kebebasan. Persoalannya, rumus agregasi kebebasan tidak sama dengan rumus agregasi aset kekayaan fisik (rumah, uang, mobil, dll), meski kebebasan individu sama dengan aset pribadi. Dalam rumus agregasi aset, jika ada 5 orang masing- masing memiliki kekayaan US$ 1 milyar, maka akan terkumpul US$ 5 milyar. Rumus tersebut tidak dapat berlaku dalam agregasi kebebasan sosial (sekelompok individu). Jumlahan maksimum kebebasan antar-individu dalam suatu kelompok manusia adalah minimum kebebasan individu yang dapat diterima oleh individu lain. Rumus ini sama dengan rumus mencari kekuatan paling tinggi sebuah rantai, yakni kekuatan mata rantai (node) yang paling kecil. Inilah esensi dari kehidupan jejaring sosial.

Akhirnya, minimum kebebasan individu yang dapat diterima oleh orang lain sama dan sebangun dengan toleransi. Jadi, jika ingin membangun suatu kelompok masyarakat (organisasi) yang harmonis, saling menghormati, saling menyayangi carilah derajat toleransi di antara para anggotanya. Toleransi yang semakin besar, berarti kebebasan mengekspresikan hak individu semakin besar, demikian pula sebaliknya. Tetapi sayangnya, seringkali toleransi disalah-maknakan dengan ketidak-pedulian, atau pembiaran, atau kepasrahan meski sebetulnya hatinya tidak mau terima. Toleransi mengandung makna memahami kepentingan pihak lain; menjaga atau tidak membiarkan jalinan sosial bersifat semu (ramah dalam penampilan, namun selalu curiga dan benci di dalam hati); serta bersifat dinamis, proaktif, dan tidak sekedar pasrah ketika pihak lain (biasanya majoritas atau yang sedang berkuasa) berlaku sesukanya. Di dalam toleransi juga terjadi dialog dalam kesejajaran, bukan perintah satu arah tanpa peluang untuk memberi umpan balik. Lebih jauh, toleransi dapat mencerminkan apakah seseorang memiliki kecerdasan moral (moral intelligence).

Dalam masyarakat heterogen seperti Indonesia, toleransi sangat dibutuhkan. Sayangnya, meski barangkali ada sebagian pihak yang mengakatakan “toleransi di Indonesia sudah sangat baik” namun mohon dimaafkan bila saya mengatakan “kualitas toleransi di Indonesia (yang dikatakan baik tersebut) sejatinya belumlah baik benar, atau masih semu”. Buktinya, betapa mudah masyarakat kita melakukan amuk massa, jika berbeda pendapat ujung- ujungnya bertengkar dan selalu ingin melukai atau bahkan membuat mati pihak lain. Toleransi berhubungan juga dengan kemampuan mengendalikan emosi dan berkomunikasi. Contoh lain? Lihat pengemudi kendaraan di jalanan kota Jakarta (dan mungkin juga kota – kota lain di Indonesia) saling serobot, saling ingin mendahului, berhenti seenaknya tidak peduli sekian puluh kendaraan di belakangnya terpaksa macet. Bersenggolan sedikit saja langsung saling cari pembenaran diri, bahkan berkelahi keroyokan seperti yang saya lihat di depan mata dua minggu lalu (seorang pengendara kijang menabrak sepeda motor yang tiba – tiba memotong jalan, keduanya berkelahi ala kungfu Jacky Chan, namun akhirnya sang pengendara kijang babak belur dihajar para pengendara sepeda motor lainnya yang tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan tersebut. Saya melihatnya langsung di depan mata, karena kijang tersebut berhenti persis di depan sebelah kiri dan saya tidak bisa melaju karena terhambat perkelahian mereka).

Akhir kalam, sebagai tanda menyayangi negara, bangsa dan masyarakat Indonesia (di mana saya merupakan bagian dari padanya) saya menyerukan marilah kita membangun toleransi sejati dalam kebebasan individu yang kita miliki.*****

No comments:

Post a Comment