Wednesday, November 19, 2008

Dampak resesi dunia terhadap investasi telekomunikasi di Indonesia

Pertanyaan Wartawan
jawaban MasWig

1. Dalam situasi krisis ekonomi sekarang, serta dolar yang beranjak naik, apakah akan berpengaruh pada invetasi di bidang telekomunikasi menjadi melambat?

perubahan nilai tukar rupiah yang cukup drastis dan tidak dapat diprediksi sampai kapan akan kembali stabil, atau turun pada angka sekitar Rp.9.000,- mendorong para operator telekomunkasi untuk menghitung kembali rencana investasi pengembangan atau perluasan jaringan. prioritas menjadi kata kunci yang akan dipegang teguh oleh manajemen operator. prioritas yang dimaksud di sini adalah pemilihan yang tepat lokasi atau wilayah mana saja yang dapat diteruskan, dikurangi atau ditunda. investasi untuk penambahan kapasitas jaringan, perluasan jangkuan dan atau inovasi layanan, akan diteruskan jika memberikan return yang tinggi dan payback period relatif cepat, bila kedua syarat ini tidak terpenuhi, maka dipertimbangkan untuk ditunda atau bahkan dibatalkan. jadi besar atau kecil pengaruh krisis ekonomi terhadap operator telekomunikasi juga ditentukan oleh posisi masing - masing operator dalam penguasaan pasar, coverage yang telah dimiliki, kewajiban keuangan (liability) yang sedang ditanggung, serta sumber daya yang masih dimiliki. bagi operator yang telah membangun dan mengoperasikan jaringan serta layanan telekomunikasi lebih dari 75% wilayah Indonesia, dan memiliki customer base di atas 50 juta, saya menduga pengaruhnya tidak akan sebesar yang dialami oleh operator kecil yang baru masuk ke industri telekomunikasi nasional.


2. Apakah dampak selanjutnya, penurunan tarif menjadi terhambat, padahal tarif telekomunikasi di Indonesia masih paling tinggi?

selama krisis keuangan global terjadi, saya tidak melihat akan adanya insentif pasar (market incentive) bila ada operator yang akan menaikkan atau menurunan harga. dinaikkan pelanggan protes, diturunkan (lagi) perusahan mengalami penurunan pendapatan, padahal kebutuhan investasi harus ditanggung sendiri. saya menduga, ini saat terbaik bagi operator untuk merancang ulang strategi bisnis mereka, dari yang semula berkompetisi di harga, bergeser ke bersaing di layanan.

3. Apakah perlu sebagian perangkat telekomunikasi diproduksi sendiri oleh industri nasional? Apakah memungkinkan dan bagian mana yang mungkin bisa diproduksi?

isu local content, sudah usang. menurut hemat saya mestinya sudah dengan sendirinya ada kerja sama antara operator sebagai pengguna dan integrator teknologi dan industri manufaktur perangkat elektronika dan telekomunikasi sebagai penyedia teknologi. persoalannya, dan ini mengapa saya katakan "usang", karena semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat konsumen hanya berhenti pada lip service semata. omongnya doang berpihak pada industri nasional. tetapi, kenyataannya, yang memproduksi tidak mampu membuat barang yang berkualitas dan memberikan layanan purna jual yang memuaskan, kondisi ini mendorong operator (industri integrator) dan masyarakat enggan menggunakan produk dalam negeri. sementara itu pemerintah karena kemampuannya yang tidak optimal tidak berhasil memacu peningkatan kualitas dan hanay menganjurkan namun tidak memberi contoh. maka terbentuklah lingkaran setan, yang semain menenggelamkan produk dalam negeri. jadi saya kira,meski kita tahu salah satu resep untuk menghadapi krisis keuangan global ini adalah peningkatan produksi dalam negeri, namun resep ini tidak dapat dibeli oleh Indonesia, walhasil, tetap saja Nokia-Siemens, Motorola, Ericsson, Huawei, dan ZTE dan temab-temanya produksi luar negeri yang masih tetap akan dibeli operator telekomunikasi Indonesia dalam suasana krisis ini.

4. Seberapa besar ketergantungan industri telekomunikasi kita terhadap produk-produk dari luar?

sangat besar. 90% dari investasi perangkat telekomunikasi diproduksi perusahaan luar negeri. mengapa? kita (Indonesia) bukan penghasil teknologi, hanya mengunakan saja, mengintegrasikan teknologi yang ada guna memberikan layanan.

5. Investasi per pelanggan di jaringan seluler sudah sangat turun, apakah ini bisa membantu ?

tidak juga. turunnya investasi per subscriber lebih didorong karena beberapa faktor di luar krisis keuangan: pertama teknologi GSM, CDMA sudah memasuki maturity, economic of scale sudah terlampaui, investasi R&D sudah kembali, sehingga unit cost sudah turun. ingat harga USB flash disk? sewaktu baru muncul, harga flashdisk untuk kapasitas 256MB masih di atas Rp. 800 ribu. sekarang flash disk kapasitas 1 GB (kapasitas naik 400%), harganya Rp. 200 ribu (harga turun 75%). kedua karena faktor kompetisi. meski semakin banyak operator yang bermunculan, namun semakin bertambah pula perusahaan produsen peralatan telekomunikasi yang mampu menghasilkan perangka dengan harga murah dengan kapasitas dan kualitas yang lebih baik. kompetisi mendorong penurunan harga. masuknya dua perusahaan China (Huawei dan ZTE) ke industri manufaktur perangkat telekomunikasi telah mengubah landscape industri perangkat telekomunikasi global. ketiga, karena posisi tawar pembeli sudah semakin baik. setelah sekian tahun mengoperasikan teknologi telekomunikasi, operator telah memahami bagaimana merancang, membangun dan mengoperasikan jaringan dan layanan telekomunikasi secar efisien agar menang dalam kompetisi. kemampuan ini memberi manfaat baru ketika bernegosiasi dengan vendor teknologi.

6. Himbauan agar operator untuk melakukan pemasangan instalasi jaringan secara bersama apakah bisa menjadi solusi?

himbauan ini hanya berlaku untuk penggunaan menara (tower), tempat untuk memasang antena radio microwave dan atau BTS, tidak untuk seluruh perangkat jaringan. dari aspek efisiensi, dampak dari regulasi menara bersama ternyata tidak signifikan, bahkan di banyak tempat menambah biaya dan keruwetan baru bagi semua operator telekomunikasi. sejak regulasi ini diterbitkan saya malah menghimbau agar pemerintah meninjau ulang kebijakan ini.

7. Soal 3G. Menurut Anda, apakah layanan 3G di Indonesia sudah mencapai target atau tidak mampu memenuhi tujuannya?

data yang saya miliki menunjukkan belum semua operator telekomunikasi yang mengantongi izin 3G telah memenuhi komitmen pembangunan yang tertuang dalam kontrak "modern licensing" dengan pemerintah. hal in terjadi,menurut hemat saya karena beberapa hal. pertama, faktor internal perusahaan, seperti masih fokus pada 2G, atau sumber dana untuk investasi belum tersedia, atau karena ada strategi lain seperti menungu moment yang tepat untuk mulai menawarkan layanan 3G (perusahaan memilih sebagai follower ketimbang menjadi first mover). kedua faktor eksternal, seperti permintaan pasar masih dapat dipenuhi dengan layanan 2G, sementara permintaan terhadap layanan 3G belum terlihat cukup besar sehinggga bila investasi dihabiskan untuk membangun jaringan 3G, perusahaan akan mengalami kesulitan cashflow.

8. Di luar negeri, pertumbuhan jumlah pelanggan 3G sangat lambat, apakah 3G ini memang produk gagal? Bagaimana dengan di Indonesia, karena secara kasat mata tidak banyak yang memanfaatkan layanan 3G?

saya kira 3G bukan produk gagal. jika sekarang belum banyak dimintai pasar, bisa jadi karena operator penyelenggaranya belum berhasil membangun inovasi yang dapat merangsang (stimulate) permintaan terhadap layanan 3G. proposisi saya, 3G sebagai teknologi perlu kemasan yang bagus agar masyarakat mau membelinya. selain perlukemasan yang bagus, barangkali ruang dan waktu untuk memasarkan layanan 3G belum memeroleh moment yang tepat. dan untuk itu perlu diciptakan moment tepat tersebut. jadi teknologi sebagus apapun, akan tinggal dan tetap sebagai teknologi yang tidak laku, bila ketika masuk ke phase komersial, penjajanya tidak mampu menciptakan demand dan moment yang tepat.

9. Apakah tarif layanan 3G yang mahal yang menyebabkan kurang diminati masyarakat?

mahal atau murah itu relatif. analisisnya seperti yang dikemukakan di atas. awalnya bisa saja dianggap mahal, namun setelah mencapai titik tertentu, baik nominal maupun perceived price-nya akan menjadi murah.

10. apakah dari segi operator sendiri kurang melakukan edukasi sehingga 3G kuranmg dimanfaatkan?

bisa jadi demikian. edukasi terhadap pelanggan dan calon pelanggan belum secara intensif digarap. mengapa demikian? jawabnya, karena belum menjadi prioritas.

11. Apakah perlu memacu operator agar mencari pasar di luar jawa, yang persaingannya belum terlalu ketat?

siapa yang mau memacu? tidak perlu diperintah (oleh pemerintah), bila pasar di luar jawa memberi benefit yang besar pasti operator akan eksis di situ. ada atau tidaknya operator yang telah hadir di suatu wilayah (mencerminkan kuat-lemahnya kompetisi di wilayah tersebut) kadang tidak menjadi pertimbangan bagi suatu operator untuk eksis di wilayah tersebut.

12. Bagaimana dengan layanan data sendiri melalui 3G? kenapa tidak bisa menjadi cepat menjadi massal sehingga tarifnya makin terjangkau?

statistik menunjukkan dalam 2 tahun terakhir ini, layanan data (akses internet untuk browsing dan email) melalui jaringan GPRS dan 3G semakin meningkat. hal ini terjadi menyusul semakin popularnya layanan HSDPA dan Blackberry. Perhatikan saja, semakin banyak professional yang menenteng Blackberry ke mana-mana

13. Apakah 3G tidak bisa menggantikan WiMax dalam fungsinya menyediakan internet dengan cakupan lebih luas ? mengapa sulit terealisasi?

saya berpendapat 3G dan WIMAX, sebagai suatu layanan, keduanya bisa berkompetisi namun dapat pula berkolaborasi (kompelemen). dalam konteks kompetisi, karena 3G telah hadir duluan, dan para operatornya telah mengeluarkan triliunan rupiah untuk memperoleh lisensi dan investasi jaringan, sementara output-nya (pelanggan dan penghasilan dari layanan 3G) belum menunjukkan indikasi cerah, maka hal ini bisa jadi yang melatar-belakangi alasan bagi pemerintah untuk menunda penerbitan izin layanan WImax, dengan dalih menunggu sampai ada pabrikan dalam negeri yang mampu membuat erangkat Wimax. selain itu, secara teknis standar Wimax yang sudah terbit baru yang untuk nomaden, sementara standar untuk mobile belum masuk ke tahap komersial. kedua standard - nomaden dan mobile - belum commercially proven. sehingga ada alasan lain untuk menunggu sampai secara komersial terbukti keunggulannya. pembuktianini perlu guna melindungi konsumen dari digunakannya sebuah teknologi yang gagal. dalam konteks kolaborasi, karakteristik WImax dapat diintegrasikan ke dalam jaringan 3G, khususnya untuk mendukung backbone atau penghubung antar-jaringan last miles. mengapa suit terealisasi? tidak juga. secara teknis relatif gampang membangun jaringan 3G dan Wimax, Indonesia punya banyak engineer yang ahli di bidang tersebut. persoalannya justru terletak pada kebijakan dan regulasi.*****

4 comments:

  1. Mas Wig , Saya dengar sudah ada beberapa operator yang menahan CAPEX mereka untuk tahun 2009 ini , bahkan ada beberapa operator kecil yang juga sudah memutuskan untuk hengkang .
    Yang ingin saya tanyakan, apakah fenomena maskapai penerbangan juga akan terjadi di sektor telekomunikasi indonesia ? yaitu akan rontok satu persatu ? Manakah menurut mas wig yang lebih penting buat perusahaan telekomunikasi modal yang kuat atau pengelolaan yang profesional ?

    Wassalam

    Indra Kusuma

    ReplyDelete