Saturday, November 22, 2008

Wawancara Wartawan: Perspektif Telekomunikasi Untuk Tahun 2009

IB: Bagaimana prospek industri telekomunikasi pada 2009? Apakah lebih baik pertumbuhannya jika dibandingkan dengan 2008?

Jika hanya mengacu pada perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini; sebagaimana kita ketahui industri moneter sedang berguncang, berbagai bank investasi tumbang, pasar saham mengalami penurunan indek, nilai tukar mata uang rupiah mulai menurun tajam; bagi beberapa orang mungkin pesimis terhadap prospek industri telekomunikasi di tahun 2009 atau tahun – tahun mendatang. Karena ada hubungan antara sektor keuangan dan investasi dengan sektor riil termasuk telekomunikasi, besar atau kecil, diperkirakan akan ada pengaruhnya terhadap sektor telekomunikasi khususnya. Jika pengaruhnya besar, maka prospeknya berpeluang untuk menyusut, sebaliknya jika pengaruhnys kecil, prospek telekomunikasi berpeluang cukup bagus.

Yang perlu diperhatikan, prospek industri atau sektor rill, tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi moneter atau sumber pendanaan yang akan diperlukan untuk perluasan investasi perluasan jaringan, namun juga oleh faktor – faktor lain yang saling berkelindan. Untuk sektor telekomunikasi, faktor permintaan pasar salah satu yang berpengaruh kuat. Jadi walaupun, katakanlah, karena pasar modal sedang lesu, sehingga kebutuhan investasi baru tidak dapat terpenuhi secara otptimal, namun karena orang masih perlu berkomunikasi, mendapatkan informasi, hal ini menunjukkan masih adanya potensi revenue, sekaligus pendapatan bagi operator telekomunikasi. Artinya investasi baru tertunda, namun revenue dari layanan masih dapat berjalan terus bahkan ditingkatkan. Jika pendapatan ini meningkat, pada akhir tahun dapat digunakan untuk membiayai sendiri investasi yang dibutuhkan.

Kondisi semacam ini pernah dialami oleh operator telekomunikasi ketika Indonesia menghadapi krisis moneter dan ekonomi di tahun 1998. ketika itu, sektor telekomunikasi – bisa jadi – merupakan satu-satunya sektor yang masih berdiri tegak sementara sektor lain loyo dan terpuruk.

Faktor ketiga yang akan menentukan apakah prospek sektor telekomunikasi cerah di tahun 2009 adalah regulasi. Sejauh mana Regulator terus menyempurnakan regulasi sehingga hambatan- hambatan berbisnis yang selama ini dihadapi oleh operator dapat diminimalkan. Jika regulasi, baik di tingkat pusat maupun di daerah – daerah, semakin tidak business friendly, maka hal ini menambah biaya bagi operator yang pada ujungnya akan mengurangi profitabilitas.

Faktor keempat yang juga dapat mempengaruhi prospek sektor telekomunikasi adalah tingkat persaingan. Pada saat ini tingkat persaingan sudah sedemikian sengit, operator saling banting harga yang membuahkan penurunan rata-rata pendapatan per pelanggan. Ada operator telekomunikasi yang salah satu jenis layanannya yang semula menjadi tulang punggung sumber pendapatan, semester pertama 2008 sudah mulai negatif, alias mengalami penurunan pendapatan yang cukup berarti. Tingkat persaingan yang sengit di tengah pasar jasa telekomunikasi yang mulai fragmented ini memiliki dua sisi mata uang. Sisi pertama, hikmah. Operator dituntut semakin inovatif dalam menyajikan produk – produk layanan baru dan proses operasional sehingga semakin efisien. Sisi kedua, petaka. Bagi operator baru dan atau operator yang lamban dalam mengantisipasi perubahan pasar, semakin sulit melakukan penetrasi ke kantong-kantong yang dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan revenue. Dengan demikian secara umum, dampak persaingan terhadap prospek industri telekomunikasi masih lebih baik mengingat, para operator besar yang secara bersama menguasai lebih dari 90% pangsa pasar, tergolong inovatif.

Dengan memperhatikan empat faktor (investasi, permintaan pasar, regulasi, dan kompetisi) yang dapat mempengaruhi prospek sektor telekomunikasi, saya masih optimis, secara umum prospek industri jasa telekomunikasi di tahun 2009 masih dapat tumbuh, walaupun tidak sebesar tahun – tahun lalu. Jika perusahaan dapat tumbuh sama atau lebih besar dari 10%, saya kira sudah cukup bagus.


IB: Faktor apa saja yang bisa mendukung pertumbuhan industri telekomunikasi di 2009?

Itu tadi di atas: investasi, permintaan pasar, regulasi dan kompetisi.

IB: Apakah sektor ini sudah memberikan peran penting atas kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia?

Hasil studi kami (MASTEL) bersama Bank Indonesia yang dilakukan akhir tahun 2007 menunjukkan bahwa kontribusi sektor telekomunikasi terhadap Pendapatan Nasional selalu meningkat sejak tahun 1999 s.d. 2007 (semester pertama). Dari yang semula kurang dari 3% hingga mendekati 6%. Peningkatan sekitar 3% dalam kurun waktu 8 (delapan) tahun saya kira suatu prestasi yang perlu mendapat apresiasi. Apalagi bila dikaitkan dengan suatu teori yang banyak diacu di kalangan ekonomi pembangunan, bahwa penambahan investasi sebesar 1% di sektor telekomunikasi akan mendorong pertumbuhan sektor-sektor lain sebesar 3%. Jika teori ini benar, artinya sektor telekomunikasi Indonesia selama ini telah mendorong pertumbuhan sektor – sektor lainnya.


IB: Bagaimana peran perbankan dalam mendukung pertumbuhan di industri telekomunikasi?

Dalam mendukung pertumbuhan industri telekomuikasi nasional, perbankan dapat melakkannya dengan beberapa cara. Sesuai dengan tugas utama perbankan untuk menyalurkan modal dari investor kepada industri, maka perbankan dapat menjadi investor atau mewakili investor di perusahaan perusahaan telekomunikasi. Selaini itu, perbankan juga dapat mendukung dengan memberikan fasilitas pinjaman investasi dan modal kerja bagi perusahaan operator telekomunikasi dan jasa – jasa lain yang mendukung sektor telekomunikasi.

Bila dikehendaki lebih jauh, dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki, bank juga dapat menjadi penasehat keuangan bagi perusahaan di bidang ICT atau operatr telekomunikasi yang relatif baru tumbuh. Dukungan perbankan dapat lebih luas lagi, tidak hanya sebagao penasehat keuangan namun dapat pula menjadi fasilitator yang mempertemukan kepentingan perusahaan telekomunikasi dan para vendor besar perangkat telekomunikasi.

IB: Berapa rata-rata kisaran belanja modal (capex) yang harus dikeluarkan industri telekomunikasi setiap tahunnya?

Besaran capex setiap tahun saya kira ditentukan oleh target pertumbuhan masing-masing operator. Selain itu, faktor eksternal seperti industri keuangan yang menyediakan permodalan dan investasi juga akan memengaruhi berapa besar angka investasi di tahun berikutnya. Faktor eksternal lain angjuga mempengaruhi, seperti tingkat kejenuhan industri akibat semakin banyaknya operator telekomunikasi, serta network coverage yang sudah berhasil dibangun oleh masing- masing operator.

Jadi, meskinpun katakanlah, peluang pasar di suatu wilayah dianggap masih relatif besar, namun karena tingkat kompetisi di wilayah tersebut sudah cukup besar (semua operator hadir di wiayah tersebut), suatu operator sudah memiliki coverage yang cukup tinggi, sehingga di wilayah tersebut dirasa tidak perlu diprioritaskan, sementara pasar modal sedang tidak menggembirakan, maka dapat dipastikan proyeksi investasi untuk daerah tersebut tidak lebih besar dari investaso tahun sebelumnya.

Dengan memerhatikan kondisi keuangan global, secara agregat, untuk tahun 2009 saya menduga laju pertumbuhan investasi sektor telekomunikasi tidak lebih dari 5%.

IB: Apa yang harus dilakukan pemerintah dalam mendukung pertumbuhan telekomunikasi, dan bagaimana mengatasi persaingan sehat di bisnis ini?

Seperti saya kemukakan di muka, pemerintah sebaiknya segera menyempurnakan kebijakan di bidang telekomunikasi yang tercermin dari sejauh mana Regulator terus menyempurnakan regulasi sehingga hambatan- hambatan berbisnis yang selama ini dihadapi oleh operator dapat diminimalkan. Jika regulasi, baik di tingkat pusat maupun di daerah – daerah, semakin tidak business friendly, maka hal ini menambah biaya bagi operator yang pada ujungnya akan mengurangi profitabilitas.

Selain menyempurnakan regulasi yang ada, sejalan dengan perkembangan teknologi, pemerintah perlu mengantisipasi perubahan layanan telekomunikasi yang memanfaatkan teknologi baru, sementara kebijakan dan regulasi yang ada belum dapat mengakomodasi pemanfaatan teknologi baru tersebut. Jika hal ini terus berlangsung, maka masyarakat akan dirugikan.

IB: Bagaimana caranya agar sektor telekomunikasi juga bisa merefleksikan kondisi ekonomi saat ini di tengah gejolak ekonomi dunia?

Belajar dari krisis ekonomi tahun 1998, ketika sektor – sektor lain mengalami stagnansi, sektor telekomunikasi tetap tumbuh. Hal ini terjadi karena beberapa hal, pertama walaupun sedang mengalami krisis ekonomi, bagaimanapun masyarakat perlu berkomunikasi, berbicara mengirim pesan kepada rekan, saudara, sanak-famili, mitra bisnis dan lain sebagainya, Artinya konsumsi terhadap layanan telekomunikasi relatif tidak terganggu walaupun krisis ekonomi sedang menerpa negeri ini. Kedua, karena permintaan terhadap layanan telekomunikasi masih tetap tinggi, hal ini menambah kepercayaan para pengelola perusahaan telekomunikasi untuk tetap mengelola perusahaan dengan baik dan bahkan menambah investasi dengan membangun jaringan di wilayah – wilayah yang secara ekonomi memberi keuntungan. Ketiga, karena operator masih tetap percaya untuk membangun, investor besar semakin percaya akan masih tetap untung untuk menambah investasi di sektor telekomunikasi. Sebagai akibatnya, kinerja sektor telekomunikasi secara keseluruhan meningkatm walaupun krisis ekonomi sedang melanda.

Pada akhir tahun 2008 ini dan saya kira menjelang kuarter pertama tahun 2009 dunia dan Indonesia masih akan diwarnai gelombang kelabu akibat krisis keuangan amerika yang mendorong krisis global. Apabila para pengelola perusahaan telekomunikasi dan masyarakat Indonesia masih dapat meniru apa yang pernah mereka lakukan di tahun 1998 lalu, maka saya yakin sektor telekomunikasi akan tetap kuat walaupun krisis melanda.*****

2 comments:

  1. Terima kasih artikel wawancaranya pak, sangat berguna bagi saya untuk menyusun marketing plan di tahun 2009

    ReplyDelete