Saturday, December 18, 2004

Bagaimana ber-Internet di tengah mahalnya Tarif Telepon?

Bagaimana ber-Internet di tengah mahalnya Tarif Telepon?

Penggunaan Internet makin hari makin menjadi kebutuhan bagi sementara anggota masyarakat. Namun mahalnya tarif telekomunikasi khususnya telepon menurunkan minat orang untuk ber-Internet. Bagaimana menyikapinya?

INTERNET berawal dari adanya kebutuhan untuk menghubungkan fasilitas komputer milik departemen pertahanan Amerika. Ketika itu, ada kekhawatiran bila terjadi kerusakan pada salah satu simpul atau media penghubung jaringan maka seluruh jaringan komputer menjadi tidak berfungsi. Padahal masalah pertahanan dan kemanan merupakan hal yang harus selalu terjaga dengan baik. Mengatasi kekhawatiran tersebut, muncullah jaringan komputer yang relatif lebih handal namun bersifat terbuka. Dikatakan terbuka karena berbeda dengan jaringan konvensional sebelumnya yang menggunakan jaringan khusus tertutup, jaringan baru yang kemudian dikenal sebagai Internet ini memanfaatkan jaringan telekomunikasi Public Switch Telephone Network (PSTN) yang sudah lama tersedia.

Penggunaan Internet terus berkembang, dan keluar dari kepentingan semula yang hanya dimaksudkan untuk jaringan riset antar univesitas. Pemakai Internet bertambah luar biasa banyaknya setelah masuk ke tahapan komersial. Perkembangannya bertambah cepat ketika muncul aplikasi browser yang makin membuat mudah bagi siapa saja untuk ber-Internet. Sayangnya, di beberapa negara termasuk Indonesia, kemajuan aplikasi tidak disertai dengan tersedianya infrastruktur telekomunikasi yang memadai.

Untuk terhubung ke Internet seseorang harus menggunakan komputer yang tersambung ke server layanan Internet melalui jaringan telekomunikasi. Salah satu alternatif yang banyak digunakan adalah menggunakan dial up atau saluran telepon lokal. Dengan cara ini, pengguna Internet menyambung ke nomor telepon milik penyedia jasa akses Internet (Internet Service Provider / ISP), yang selanjutnya menghubungkannya ke simpul – simpul informasi yang terdapat di jaringan Internet.

Permasalahannya, pertama, sampai saat ini keberadaan ISP masih terkonsentrasi di kota – kota besar saja, sehingga bagi sebagian besar kota di daerah, masih harus membuat sambungan antar – kota (sambungan langsung jarak jauh / SLJJ). Padahal tarif SLJJ masih relatif mahal. Kedua, susunan biaya ber-Internet terdiri dari dua komponen: biaya sambungan telepon yang dibayarkan kepada operator telekomunikasi, dalam hal ini PT. Telkom, dan biaya langganan akses Internet yang dibayarkan kepada ISP. Apabila tarif sambungan telepon naik, secara otomatis total biaya untuk ber-Internet ikutan pula naik.

PT. Telkom memang sudah menyediakan layanan TelkomNet Instant untuk sambungan ke Internet. Namun demikian bila dicermati, layanan ini hanya terasa murah bagi pengguna awal saja yang ber-Internet tidak lebih dari 1 jam sehari. Lebih dari itu, layanan TelkomNet Instant menjadi lebih mahal dari rata – rata tarif akses yang ditawarkan ISP. Selain itu, layanan ini-pun masih terbatas di kota – kota tertentu, sehingga seringkali membuat pengguna TelkomNet Instant merasa tertipu karena harus membayar dengan tarif SLJJ.

Dihadapkan pada kenyataan mahal dan langaknya sambungan telepon lokal, apalagi terhitung sejak tanggal 1 Januari 2003 tarif sambungan telepon lokal dan biaya bulanan tetap naik lebih dari 30%, apakah kita harus mengurungkan niat untuk ber-Internet, sementara kita tahu, banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan Internet ini. Pertanyaannya, adalah cara lain yang lebih murah dan sederhana – sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja – sebagai alternatif dari model dial up yang harus tersambungke jaringan PSTN milik Telkom? Jawabnya tentu saja, ADA.

RT/RW Net, demikian istilah yang digunakan oleh pakar Internet Dr. Onno Widodo Poerbo dan Ir. Michael Sunggiardi, Direktur BogorNet (Bonet) ISP yang berafiliasi dengan IndoNet. Baik Onno maupun Opa – panggilan akrab Micahel, keduanya sangat aktif memasyarakatkan konsep RT/RW Net sebagai alternatif untuk mengakses Internet bagi rumah tangga dan mengatasi mahal dan langkanya sambungan telepon.

Dalam konsep yang diajukan kedua pakar ini, media yang digunakan untuk menghubungkan komputer di rumah dengan server milik ISP menggunakan gelombang elektromagnet melalui sambungan radio (radio link) pada frekuensi 2.4 GHz. Frekuensi ini sudah masuk ke dalam klasifikasi gelombang mikro (microwave) yang tidak mengijinkan adanya halangan di antara dua pemancar/penerima (transceiver), atau disebut kondisi Line of Sight (LOS). Pancaran sinyal dari ISP dapat ditransmisikan ke segala arah (omni direction) atau hanya tertuju pada satu unit transceiver tertentu saja (point to point).

Untuk dapat membangun RT/RW Net, diperlukan sedikitnya satu buah Base Transceiver System (BTS), satu buah kompter yang berfungsi sebagai server, router, jaringan kabel coaxial dan Unshielded Twisted Pairs (UTP), kartu interface jaringan (network interface card / NIC), konektor, dan beberapa buah distributor (hub). BTS adalah perangkat pemancar dan penerima radio yang dilengkapi dengan antena, tiang penyangga antena, modem, dan multiplexer. Dalam bahasa sederhana BTS berfungsi sebagai pintu gerbang bagi sekelompok komputer yang hendak disambungkan ke server ISP melalui spektrum frekuensi gelombang elektromagnet.

Selanjutnya BTS disambungkan ke server yang sudah terhubung ke router atau hub. Melalui router, server dihubungkan ke komputer yang tersebar di lingkungan RT/RW. Sambungan antara hub dengan komputer dapat menggunakan kabel UTP. Satu hub biasanya dapat melayani 8 sampai dengan 16 komputer tergantung jenis dan jarak. Bila jarak antara hub dan komputer lebih dari 100 meter, sebaiknya dipasang hub lagi agar sinyalnya tidak lemah.

Keseluruhan rumah yang tersambung sebenarnya membentuk jaringan komputer lokal (Local Area Network / LAN). Adapun setelah tersambung ke server ISP melalui BTS dengan gelombang mikro, konfigurasi semacam ini disebut Wireless LAN atau Wide Area Network (WAN). Kelebihan lain dari Wireless LAN ini adalah anggota dapat mengakses Internet selama 24 jam penuh sehari tanpa takut harus membayar mahalnya pulsa telepon.

Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana dengan biaya, apakah bisa lebih murah dari akses dial up? Untuk menjawab pertanyaan ini, sebagai gambaran, biaya per menit akses Internet melalui TelkomNet Instant adalah Rp. 165,- jika kita menggunakan TelkomNet Instant 24 jam sehari selama 30 hari terus menerus, maka biaya yang harus dibayar sebesar Rp 165 x 60 x 24 x 30 = Rp. 7.128.000,-. Biaya ini dipastikan bertambah seiring dengan mulai berlakunya tarif telepon per 1 Januari 2003, yang konon akan menjadi Rp. 190,- per menit.

Sebaliknya dengan Wireless RT/RW Net ini, biaya yang dikeluarkan relatif sangat murah, apalagi kalau anggotanya makin banyak. Yang harus dipahami, jaringan RT/RW Net ini adalah swadaya, jadi jarinan dibangun, dioeprasikan dan dimiliki bersama oleh warga. Dengan demikian biaya investasi dan operasional bulanan, harus ditanggung bersama. Sebagai gambaran, investasi 1 buah BTS berkisar antara Rp 15 – 25 juta tergantung pada merek peralatan, kualitas dan kapasitas. Taruhlah Rp. 15 juta, jika ada 20 keluarga yang tergabung, masing – masing membayar Rp. 750 ribu. Biaya investasi ini masih harus ditambah dengan biaya untuk membeli NIC seharga Rp. 100 ribu, dan kabel yang besarnya tergantung jarak dari Hub. Harga kabel coax dan UTP per meter ± Rp. 25 ribu, Sehingga total perkiraan biaya investasi antara Rp. 1 – 1.5 juta.

Selain biaya investasi awal, ada biaya operasional meliputi biaya sewa bandwidth, teknisi, listrik, dan lain – lain. Untuk memperoleh sambungan Internet dengan kecepatan 64 kbps per komputer, besarnya sewa bandwidth adalah Rp. 1.8 juta, biaya teknisi, listrik dan lain –lain, ditaksir sebesar Rp. 2.5 juta, sehingga total biaya bulanan Rp. 4.3 juta. Biaya inilah yang kemudian harus dibagi kepada seluruh anggota. Jika ada 20 anggota berarti masing – masing membayar Rp. 215 ribu. Bandwidth dengan kecepatan 64 kbps masih cukup bagus dipakai secara bersaman oleh 40 anggota, sehingga bila ada 40 anggota masing – masing cukup membayar Rp. 107.500,- . Sangat murah untuk pengunaan dengan waktu tak terbatas, jika dibandingkan dengan Telkomnet Instant. Selain itu, dengan RT/RW Net ada kesempatan untuk menggunakannya sebagai media komunikasi telepon antar-warga, dan bertelepon ke luar kota atau luar negeri dengan biaya sangat murah tanpa menggunakan sambungan PSTN. Siapa mau mencoba?

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi.

2 comments:

  1. Hi maswig, I really like your blog Bagaimana ber-Internet di tengah mahalnya Tarif Telepon?, this post in particular really relates to my website about http://www.dsl-experts.com/. I'll check back when you have more post's I'll really be looking for more content about T-1 tho. Laters.

    ReplyDelete
  2. Mau BW yg lebih murah tapi paten?
    Langsung dari cyber?
    Jaminan rasio 1:1?

    Niih solusinya…

    64 kbps intl / 512 kbps IIX Rp.3.500.000,-
    128 kbps intl / 1 MB IIX Rp.5.500.000,-
    256 kbps intl / 2 MB IIX Rp.9.500.000,-
    512 kbps intl / IIX sekuat radio CALL

    Hub. qnet_wireless@yahoo.co.id
    93379124

    http://qnetwireless.wordpress.com

    BTS di Mampang, Jakarta Selatan

    ReplyDelete