Thursday, December 30, 2004

Tuhan, Politisi, dan Demokrasi

Pagi tadi, Rabu dua puluh sembilan desember dua ribu empat, aku tersengat membaca opini Emha Ainun Nadjib, yang di-klaim media sebagai budayawan. Artikel di Harian Kompas tersebut berjudul "Gunung Jangan Pula Meletus" menceritakan dialog antara Emha dengan Kiai Sudrun, tokoh rekaan Emha yang digambarkan sebagai manusia setengah urakan, waskita, dan menguasai persoalan ke-Tuhanan.

Sepenggal kalimat Emha yang segera menyadarkan diriku mengenai sifat ke-Tuhan-an muncul dari ucapak Sudrun "Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu - satunya yang ada, yang berhak bersikap diktator da otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang lukisannya atau merobek - robek dan mencampakkannya ke tempat sampah. Tuhan tidak berkewajiban apa - apa karena karena Ia tidak berutang keoada siapa - siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapapun. Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya."

Selepas merenung kalimat Emha di atas, saya lalu membuka buku karya Hannah Arendt " The Origins of Totalitarianism". Buku yang belakangan diramaikan oleh karya thesis-nya Rieke Diah Oneng Pitaloka dengan topik "Banalitas Kekerasan Negara" Buku Arendt ini sudah menjadi koleksi perpustakaan pribadiku sejak 15 Juli 2001, baru dibaca sebagian saja (yang ketika itu menarik minatku). Dalam uraian Arendt, diktator yang mewujud ke tindakan totaliter muncul karena penguasa mengatas-namakan dirinya sebagai pengganti dan pemegang kuasa Tuhan di bumi. Lihatlah betapa Lenin, Stalin, Hitler, Mao, dan kemudian Idi Amin, serta barangkali Soeharto menggunakan dalih kepemimpinan yang "direstui" Tuhan untuk selanjutnya mereka bertindak seolah - olah mereka itu Tuhan itu sendiri. Apa yang dinginkannya dari sembarang warga, itulah yang harus dilakukan, tak peduli rakyat harus menderita bahkan sampai mati.

Mengacu per definisi, versi Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 1996, diktator dijabarkan sebagai "kepala pemerintahan yang mempunyai kekuasaan yang mutlak, terutama diperoleh melalui kekerasan atau dengan cara yang tidak demokratis". kata kunci dalam pengertian diktator paling tidak: kepala pemerintahan, kekuasaan mutlak, kekerasan, dan tidak demokratis.

Diktator selalu dikaitkan dengan pemimpin suatu negara atau pemerintahan. Dalam skala kecil diktator dapat pula melekat pada suami sebagai kepala rumah tangga, atau pemimpin perusahaan, atau organisasi. Yang menunjukkan seorang pemimpin diktator atau tidak antara lain pada apakah dalam mendapatkan posisinya diperoleh dengan cara yang demokratis atau dengan cara paksaan, serta bagaimana pemimpin tersebut menjalankan perannya sebagai pemimpin, apakah dapat memimpin dengan tegas tanpa kekerasan, atau harus selalu disertai dengan tindakan kekerasan kepada mereka yang tidak bersetuju dengan kebijakan yang dibuatnya. Demikian pula, apakah pemimpin tersebut memerintah sendirian, sehingga seluruh kekuasaan negara ada di genggaman tangannya, atau membagi kekuasaan kepada orang lain.

Dalam Origin of Totalitarianism tidak disebutkan bagaimana seseorang pemimpin menjadi berperilaku keras, mutlak, dan tidak demokratis. Apakah muncul dari faktor internal, atau tumbuh mengikuti perkembangan dan keadaan, atau muncul sebagai pengaruh dari para pembantunya yang menjadikan sang pemimpin sebagai totaliter. Dalam hal apapun, yanghampir pasti antara sang pemimpiin dan pengikutnya menikmati hubungan timbal balik yang saling menikmatkan karena kekuasaan yang mutlak dapat digunakan untuk berbagai kepentingan pribadi dengan mengatas - namakan "untuk negara".

Berbicara pemerintahan, tentu saja tak lepas dari elite pelaku kekuasaan yang disebut politisi. Mereka inilah yang memiliki peluang untuk bertindak sebagai demokrat, otoritarian ataupun totalitarian. Menjadi pertanyaan, dapatkah negara demokratis berubah menjadi totaliter? atau sebaliknya totaliter menjadi demokratis? Sejarah menjawab pertanyaan ini. Hitler terpilih sebagai Kanselir Jerman secara demokratis, demikian pula Musolini dari Itali. Marcos dan Soeharto harus mengakhiri pemerintahan otoriter-nya (menjurus ke totaliter) setelah rakyat muak dengan penindasan yang dilakukan selama lebih dari tiga puluh tahun. Dua negara yang masih mempertahankan totaliter dan otoriter, Myanmar dan Singapura.

Kembali ke artikel Emha, menyimak pendapatnya, diktator yang sejati hanyalah milik Tuhan. Tuhan-lah kepala pemerintahan jagad raya ini. Tuhan-lah penguasa tunggal dan mutlak alam dunia dan akhirat. Namun Tuhan tidak memperoleh kekuasaan dengan jalan kekerasan, karena kekerasan dan kelembutan berasal dariNya. Dengan sifat dan kewenangan yang dimilikiNya, Tuhan tidak perlu ber-demokrasi, menanyakan pendapat manusia untuk segala kebijakan yang hendak dibuatNya. Karena, adalah Tuhan yang menciptakan manusia, bukan sebaliknya. Ingat, Tuhan berhak melakukan apa saja terhadap manusia ciptaannya.

Mengenai siapa menciptakan siapa ada dua pendapat yang berseberangan. mereka (dan termasuk saya) yang ber-Iman kepada ke-Tuhan-an yakin bahwa manusia diciptakan Tuhan. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Kita semua penduduk dunia adalah keturunan Adam. Di pihak lain, mereka yang tidak percaya tentang keberadaan Tuhan, mempercayai bahwa manusia dalam bentuknya sekarang merupakan evolusi dari makhluk yang sudah ada sebelumnya, dan makhluk yang sudah ada sebelumnya merupakan hasil reaksi zat - zat alam. Sedangkan Tuhan diciptakan oleh manusia sendiri sebagai simbol dan penguatan dari segala kelemahan manusia. Pendapat ke dua ini belum mampu menjawab siapa yang mengatur reaksi zat alam, siapa yang mengatur perputaran dan pergerakan benda - benda di alam raya.

Lalu, ketika manusia bertindak seolah - olah dirinya sebagai Tuhan, menginjak - injak nilai kemanusiaan itu sendiri, layakkah manusia tersebut hidup sebagai manusia? Aku tudak tahu jawabnya. Yang kutahu, makin banyak politisi yang memperoleh kedudukannya dengan jalan dipilih oleh rakyat, namun ketika sudah menjadi pemimpin berubah menjadi makhluk dengan naluri diktator, totaliter. Hal ini, barangkali sedikit menjawab pertanyaan dari mana manusia memperoleh perilaku diktator totaliter. Manusia sebagai ciptaan Tuhan, setidaknya mengandung - entah seberapa besar - senyawa yang memiliki sifat diktatornya Tuhan. Namun berbeda dengan Tuhan yang kediktatoranNya bersifat netral dan ajeg, senyawa diktator yang melekat pada jiwa dan fisik manusia bersifat tidak tetap, dan tidak netral. Dikatakan tidak tetap, karena dapat tumbuh, berkembang membesar ketiak situasi dan kondisi memungkinkan baginya untuk mengembangkan sifat - sifat diktator. Sedangkan tidak netral, karena perilaku diktator diterapkan hanya kepada mereka yang tidak mau tunduk, atau yang berada di bawah kekuasaaannya saja. Kediktatoran Tuhan, tidak pilih pilih, siapa saja yang dikasihin, sebagaimana siapa saja memperoleh cobaan dan siksaan Tuhan baik ketika masih di alam fana maupun alam akhirat.

Mas Wigrantoro Roes Setiyadi,
Rempoa, 29 Desember 2004

No comments:

Post a Comment